Beranda All News & Media Tes HIV, Prosedur, Informasi, dan Rujukan

Tes HIV, Prosedur, Informasi, dan Rujukan

69
0
Advertisement

Yoo, Sahabat YAIDS

Jika di minggu kemarin kita membahas pedoman pelaksanaan konseling dan tes HIV di fasilitas pelayanan kesehatan. Di kesempatan kali ini kita akan membahas jika setelah hasil dari tes HIV positif, informasi pelayanan fasilitas kesehatan yang melayani tes HIV di Indonesia.

Rujukan ke Layanan PDP (Perawatan, Dukungan, dan Pelayanan) bagi yang Positif

Klien/pasien yang hasil tesnya positif perlu segera dirujuk ke layanan perawatan, dukungan dan pengobatan untuk mendapatkan layanan selanjutnya yang dibutuhkan. Setelah dinyatakan terinfeksi oleh HIV maka pasien perlu dirujuk ke layanan PDP (Perawatan, Dukungan, dan Pelayanan) untuk menjalakan serangkaian layanan yang meliputi penilaian stadium klinis, imunologi, dan virologi, ini dilakukan untuk:

Advertisement
  1. Menentukan apakah pasien sudah memenuhi syarat untuk terapi antiretroviral.
  2. Menilai status imun pasien.
  3. Menentukan infeksi oportunistik yang pernah atau sedang terjadi.
  4. Menentukan paduan ARV yang sesuai.

Penilaian Stadium Klinis

Penilaian ini harus dilakukan pada saat kunjungan awal dan setiap kali kunjungan untuk penentuan terapi ARV agar lebih tepat waktu.

Penilaian Imunologi (Pemerikasaan jumlah CD4)

Jumlah CD4 adalah cara untuk menilai status imunitas ODHA. Pemeriksaan CD4 melengkapi pemeriksaan klinis untuk menentukan pasien yang memerlukan pengobatan profilaksis Infeksi Oportunistik (IO) dan terapi ARV. Rata rata penurunan CD4 adalah sekitar 70-100 sel/mm3/tahun, dengan peningkatan setelah pemberian ARV antara 50–100 sel/mm3/tahun. Jumlah limfosit total (TLC) tidak dapat menggantikan pemeriksaan CD4.

Pemeriksaan Laboratorium Sebelum Memulai Terapi

Pada dasarnya pemantauan laboratorium bukan merupakan persyaratan mutlak untuk menginisiasi terapi ARV. Pemeriksaan CD4 dan viral load juga bukan kebutuhan mutlak dalam pemantauan pasien yang mendapat terapi ARV, namun pemantauan laboratorium atas indikasi gejala yang ada sangat dianjurkan untuk memantau keamanan dan toksisitas pada ODHA yang menerima terapi ARV. Hanya apabila sumberdaya memungkinkan maka dianjurkan melakukan pemeriksaan viral load pada pasien tertentu untuk mengkonfirmasi adanya gagal terapi menurut kriteria klinis dan imunologis.
Di bawah ini adalah pemeriksaan laboratorium yang ideal sebelum memulai ART apabila sumber daya memungkinkan:

  • Darah lengkap*
  • Jumlah CD4*
  • SGOT / SGPT*
  • Kreatinin Serum*
  • Urinalisa*
  • HbsAg*
  • Anti-HCV (untuk ODHA IDU atau dengan riwayat IDU)
  • Profil lipid serum
  • Gula darah
  • VDRL/TPHA/PRP
  • Ronsen dada (utamanya bila curiga ada infeksi paru)
  • Tes Kehamilan (perempuan usia reprodukstif dan perluanamnesis mens terakhir)
  • PAP smear/IFA-IMS untuk menyingkirkan adanya Ca Cervix yang pada ODHA bisa bersifat progresif
  • § Jumlah virus/Viral Load RNA HIV** dalam plasma (bila tersedia dan bila pasien mampu)

Catatan:
* adalah pemeriksaan yang minimal perlu dilakukan sebelum terapi ARV karena berkaitan dengan pemilihan obat ARV. Tentu saja hal ini perlu mengingat ketersediaan sarana dan indikasi lainnya.
** pemeriksaan jumlah virus memang bukan merupakan anjuran untuk dilakukan sebagai pemeriksaan awal tetapi akan sangat berguna (bila pasien punya data) utamanya untuk memantau perkembangan dan menentukan suatu keadaan gagal terapi.

Persyaratan lain sebelum memulai terapi ARV

Sebelum mendapat terapi ARV pasien harus dipersiapkan secara matang dengan konseling kepatuhan karena terapi ARV akan berlangsung seumur hidupnya.
Untuk ODHA yang akan memulai terapi ARV dalam keadaan jumlah CD4 di bawah 200 sel/mm3 maka dianjurkan untuk memberikan Kotrimoksasol (1x960mg sebagai pencegahan IO) 2 minggu sebelum terapi ARV. Hal ini dimaksudkan untuk:

  1. Mengkaji kepatuhan pasien untuk minum obat.
  2. Menyingkirkan kemungkinan efek samping tumpang tindih antara kotrimoksasol dan obat ARV, mengingat bahwa banyak obat ARV mempunyai efek samping yang sama dengan efek samping kotrimoksasol.

Pengobatan Pencegahan Kotrimoksasol (PPK)

Beberapa infeksi oportunistik (IO) pada ODHA dapat dicegah dengan pemberian pengobatan profilaksis. Terdapat dua macam pengobatan pencegahan, yaitu profilaksis primer dan profilaksis sekunder.

Profilaksis primer adalah pemberian pengobatan pencegahan untuk mencegah suatu infeksi yang belum pernah diderita. Profilaksis sekunder adalah pemberian pengobatan pencegahan yang ditujukan untuk mencegah berulangnya suatu infeksi yang pernah diderita sebelumnya

Berbagai penelitian telah membuktikan efektifitas pengobatan pencegahan kotrimoksasol dalam menurunkan angka kematian dan kesakitan pada orang yang terinfeksi HIV. Hal tersebut dikaitkan dengan penurunan insidensi infeksi bakterial, parasit (Toxoplasma) dan Pneumocystis carinii pneumonia (sekarang disebut P. jiroveci, disingkat sebagai PCP). Pemberian kotrimoksasol untuk mencegah (secara primer maupun sekunder) terjadinya PCP dan Toxoplasmosis disebut sebagai Pengobatan Pencegahan Kotrimoksasol (PPK).
SUMBER

Indikasi Memulai Terapi ARV

Rekomendasi untuk memulai terapi ARV adalah kepada semua pasien dengan jumlah CD4 kurang dari 350. terapi ARV juga dianjurkan pada semua pasien dengan TB aktif, ibu hamil dan juga ko-infeksi Hepatitis B tanpa memandang jumlah CD4.

Tujuan Pemberian ARV

Tujuan utama pemberian ARV adalah untuk mencegah angka kematian yang berhubungan dengan HIV. Tujuan ini dapat dicapai melalui pemberian terapi ARV yang efektif sehingga tingkat viral load tidak terdeteksi lagi. Lamanya penekanan HIV dapat meningkatkan fungsi imun dan kualitas hidup ODHA secara keseluruhan, menurunkan komplikasi AIDS, dan memperpanjang masa hidup. Pemberian ARV juga dimaksudkan untuk mengurangi risiko penularan HIV.

Biaya Akses ARV

ARV memang diberikan secara gratis oleh pemerintah bagi ODHA yang memenuhi kriteria klinis karena hal itu memang menjadi program pemerintah untuk menekan angka penyebaran HIV. Untuk mendapatkan ARV secara gratis, ODHA bisa mengunjungi rumah sakit rujukan AIDS. Meskipun ARV diberikan secara gratis, namun mungkin masih diperlukan biaya administrasi, dokter, dan beberapa tes lain.

Besar biaya bergantung pada rumah sakit yang ODHA kunjungi. ODHA bisa memilih rumah sakit pemerintah (bukan swasta) untuk harga yang lebih murah. Jika ODHA memiliki jaminan kesehatan/asuransi seperti BPJS dan asuransi swasta lain, tanyakan pada pihak terkait apakah biaya pemeriksaan dan ARV dicover/ditanggung atau tidak. Jika ditanggung, ODHA bisa menggunakan jaminan kesehatan tersebut.

Rumah Sakit Rujukan

Berikut ini adalah beberapa daftar rumah sakit rujukan di seluruh Indonesia yang berhasil dikumpulkan oleh Yayasan AIDS Indonesia, diharapkan kedepannya daftar ini akan terus bertambah lebih lengkap lagi

Daftar Rumah Sakit Rujukan Di Indonesia

Yuk terhubung dengan yaids di sosial media kita :
Instagram
Twitter
Facebook
Youtube
E-mail: info@yaids.com
Hotline: (021) 549-5313
WhatsApp

+62 813-6099-1993 (Konseling dan Chat Only)

+62 813-1775-9645 (Kerjasama dan Chat Only)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here