Beranda All News & Media Tes HIV, Prosedur, Informasi, dan Fenomena HIV di Indonesia

Tes HIV, Prosedur, Informasi, dan Fenomena HIV di Indonesia

60
0
Advertisement

Yoo, Sahabat YAIDS

Di tahun 2021 nanti, Yayasan AIDS Indonesia akan mengadakan kampanye yang berhubungan dengan tes HIV. Kampanye ini diharapkan bisa meningkatkan kesadaran masyarakat akan status HIV mereka. Sebelum membahas lebih jauh kampanye yang akan diadakan oleh Yayasan AIDS Indonesia tahun depan, dalam kesempatan kali ini kita akan membahas tata cara prosedur tes HIV

Ada beberapa langkah-langkah berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia tahun 2014 Tentang Pedoman Pelaksaan Konseling dan Tes HIV di fasilitas pelayanan kesehatan, yaitu:

Advertisement

A. Pemberian Informasi tentang HIV dan AIDS sebelum tes

Pemberian Informasi ini terdiri atas beberapa sasaran sebagai berikut:

  1. Sesi informasi pra-tes secara kelompok.
  2. Sesi informasi pra-tes secara individual.
  3. Sesi Informasi Pra-Tes Pada Kelompok Khusus.

Pemberian informasi biasanya akan meliputi :

  1. Informasi dasar HIV dan AIDS.
  2. Upaya pencegahan yang efektif, termasuk penggunaan kondom secara konsisten, mengurangi jumlah pasangan seksual, penggunaan alat suntik steril dan lainnya.
  3. Keuntungan dan pentingnya tes HIV sedini mungkin.
  4. Informasi tentang proses pemeriksaan laboratorium HIV.
  5. Membahas konfidensialitas, dan konfidensialitas bersama.
  6. Membahas pilihan untuk tidak menjalani tes HIV.
  7. Tawaran untuk menjalani tes pada masa mendatang bila klien belum siap.
  8. Pentingnya pemeriksaan gejala dan tanda penyakit Tuberkulosis (TB) selama konseling pra dan paska-tes
  9. Rujukan ke layanan yang terkait dengan HIV, seperti misalnya konsultasi gizi, pemeriksaan dan pengobatan TB, pemeriksaan Infeksi Menular Seksual (IMS), pemeriksaan CD4, tata laksana infeksi oportunistik dan stadium klinis.

B. Persetujuan Tes HIV (Informed Concent)

Aspek penting di dalam persetujuan adalah sebagai berikut:

  1. Klien telah memahami tentang maksud dan tujuan tes, serta risiko dan dampaknya.
  2. Informasi bahwa jika hasil tes positif, akan dirujuk ke layanan HIV termasuk pengobatan ARV dan penatalaksanaan lainnya.
  3. Bagi mereka yang menolak tes HIV dicatat dalam catatan medik untuk dilakukan penawaran tes dan atau konseling ulang ketika kunjungan berikutnya.
  4. Persetujuan untuk anak dan remaja di bawah umur diperoleh dari orangtua atau wali.
  5. Pada pasien dengan gangguan jiwa berat atau disabilitas/hendaya kognitif yang tidak mampu membuat keputusan dan secara nyata berperilaku berisiko, dapat dimintakan kepada isteri/suami atau ibu/ayah kandung atau anak kandung/saudara kandung atau walinya.

C.Pengambilan Darah untuk Tes

Tes HIV dapat dilakukan dengan dua acara, yaitu tes cepat HIV dan tes ELISA. Pemilihan antara menggunakan tes cepat HIV atau tes ELISA harus mempertimbangkan faktor tatanan tempat pelaksanaan tes HIV, biaya dan ketersediaan perangkat tes, reagen dan peralatan; pengambilan sampel, transportasi, SDM serta kesediaan pasien untuk Kembali mengambil hasil.

D.Penyampaian Hasil Tes

Penyampaian hasil tes dilakukan oleh petugas kesehatan yang menawarkan tes HIV. Penyampaian hasil tes dimaksudkan, untuk memastikan pemahaman pasien atas status HIVnya dan keterkaitan dengan penyakitnya. Hal-hal berikut dilakukan oleh petugas pada penyampaian hasil tes:

  1. Membacakan hasil tes;
  2. Menjelaskan makna hasil tes;
  3. Memberikan informasi selanjutnya;
  4. Merujuk pasien ke konselor HIV untuk konseling lanjutan dan ke layanan pengobatan untuk terapi selanjutnya.

E. Konseling Paska Tes

Semua klien/pasien yang menjalani tes HIV perlu menerima konseling paska tes tanpa memandang apapun hasilnya. Konseling paska tes membantu klien/pasien memahami dan menyesuaikan diri dengan hasil tes dan tindak lanjut pengobatan. Hasil dari konseling paska tes yang dilakukan konselor mendokumentasikan dalam buku kunjungan klien, formulir ini dapat dibuat oleh masing-masing layanan.

Pada tahapan ini, jika pasien atau individu dinyatakan negatif HIV maka tenaga medis akan menyarakan untuk melakukan tes kembali dalam jangka waktu tiga sampai enam bulan kedepan. Serta mengingatkan kepada pasien agar tetap menjaga dirinya sendiri untuk tidak melakukan perilaku ataupun tindakan yang berisiko.

F. Rujukan ke Layanan PDP (Perawatan, Dukungan, dan Pelayanan) bagi yang Positif

Klien/pasien yang hasil tesnya positif perlu segera dirujuk ke layanan perawatan, dukungan dan pengobatan untuk mendapatkan layanan selanjutnya yang dibutuhkan.

Setelah dinyatakan terinfeksi oleh HIV maka pasien perlu dirujuk ke layanan PDP (Perawatan, Dukungan, dan Pelayanan) untuk menjalakan serangkaian layanan yang meliputi penilaian stadium klinis, imunologi, dan virologi, ini dilakukan untuk:

  1. Menentukan apakah pasien sudah memenuhi syarat untuk terapi antiretroviral.
  2. Menilai status imun pasien.
  3. Menentukan infeksi oportunistik yang pernah atau sedang terjadi.
  4. Menentukan paduan ARV yang sesuai.

Di tahun 2021 nanti, Yayasan AIDS Indonesia akan melaksanakan kampanye yang berkaitan dengan kesadaran masyarakat terkait status HIV mereka. Diharapkan kampanye tersebut akan membantu program pemerintah dan juga WHO yang menargetkan eliminasi HIV & AIDS di tahun 2030.

Program ini akan dilaksanakan selama setahun penuh dan membutuhkan bantuan sahabat YAIDS semua untuk menyukseskan kampanye di tahun 2021 nanti. Teman-teman bisa membantu Yayasan AIDS Indonesia dengan berbagai cara, baik dengan menjadi relawan Yayasan AIDS Indonesia yang bisa di akses di tautan berikut. Berdonasi untuk Yayasan AIDS Indonesia di tautan ini

Yuk terhubung dengan yaids di sosial media kita :
Instagram
Twitter
Facebook
Youtube
E-mail: info@yaids.com
Hotline: (021) 549-5313
WhatsApp

+62 813-6099-1993 (Konseling dan Chat Only)

+62 813-1775-9645 (Kerjasama dan Chat Only)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here