Beranda All News & Media Tegakkan bersama Keadilan untuk ODHA di hari Keadilan Internasional

Tegakkan bersama Keadilan untuk ODHA di hari Keadilan Internasional

25
0
Hands hold and protect scales of justice and law concept vector illustration
Advertisement

Tegakkan bersama Keadilan untuk ODHA di hari Keadilan Internasional

Tiga puluh tahun dalam pandemi HIV kita masih mempunyai banyak masalh terkait diskriminasi dan stigma yang berhubungan dengan HIV, dan juga hukum serta penegak hukumm yang yang mendorong orang semakin jauh terhadap penanganan HIV. Situasi seperti itu dapat membuat penanganan respon HIV di seluruh dunia. Ini hanya akan berubah jika kita membuat perubahan yang signifikan dalam program untuk mengurangi stigma dan menambah akses keadilan bagi semua pihak yang terimbas oleh HIV.

– Michel Sidibe, UNAIDS Executive Director, Agustus 2011

Pada 17 Juli 1998, perwakilan dari 148 negara menghadiri pertemuan diplomatik di Roma, Italia, untuk membahas tentang masalah internasional yang sangat mendesak; yaitu kejahatan internasional.

Advertisement

Sebuah Traktat tercipta dari hasil pertemuan tersebut, lalu dituangkan dalam Statuta Roma; sebuah traktat yang menjabarkan kejahatan internasional, sekaligus mandat untuk mendirikan Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court).

Mulai saat itu, 17 Juli dikenal sebagai hari Keadilan Internasional.

Dalam Statuta Roma, Kejahatan internasional terbagi ke dalam empat kategori, yaitu:

  • Genosida (pembunuhan massal)
  • Kejahatan kemanusiaan (kejahatan yang menargetkan kelompok masyarakat tertentu)
  • Kejahatan perang
  • Kejahatan agresi (penjajahan, mobilisasi kekuatan militer tanpa alasan)

Ke-empat kategori kejahatan internasional merupakan kejahatan yang sering terjadi di dunia. ODHA pun tak luput kerap mendapatkan tindakan kejahatan kemanusiaan yang beranjak dari stigma dan diskriminasi, terutama menyangkut pelanggaran HAM.

Mengutip dari artikel Kompas.com, Dr. Nafsiah Mboi, SpA MPH menyebutkan bahwa stigma dan diskriminasi terhadap ODHA termasuk pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), lalu beliau melanjutkan “Karena stigma dan diskriminasi terhadap ODHA itu sama saja melanggar ODHA dan juga termasuk pelanggaran HAM yang sebenarnya”, yang disampaikan dalam acara “HIV/AIDS Stigma & Discrimination in the Workplace: Time to Stop!” yang diadakan di Indonesian Medical Education and Research Institute (IMERI), Universitas Indonesia, Jakarta pada hari Senin (02/23/2019).

Pandangan Prof Zubairi Djoerban

Menurut Prof. dr. Zubairi Djoerban yang dikenal sebagai penemu kasus pertama kasus HIV di Indonesia dan juga pionir penanganan HIV dan AIDS di Indonesia memberi pernyataan bahwa perlindungan terhadap hak asasi manusia orang dengan HIV tidak berarti sekadar memastikan hak-hak mereka sebagai warga negara terpenuhi.

Termasuk hak atas perlakuan non-diskriminatif, hak atas kedudukan yang sama di depan hukum, hak atas kemerdekaan dan rasa aman, hak untuk menikah, mendapatkan pendidikan, hak khusus untuk perempuan berstatus ODHA, hak untuk memiliki anak, bepergian, menyatakan pendapat dan berserikat.

Lebih dari itu, HAM untuk ODHA juga terkait dengan kerahasiaan dalam upaya mereka mendapatkan akses dan layanan pengobatan terbaik, serta dalam keterlibatan mereka dalam penelitian atau uji klinis.

Perlindungan terhadap kerahasiaan penting di satu sisi, namun dalam pelaksanaannya ia sering harus berbenturan dengan kepentingan lain yang lebih besar. Banyak “jebakan” yang harus diwaspadai oleh petugas medis dan peneliti yang memfokuskan perhatiannya pada isu HIV.

Kuncinya ada pada komitmen untuk terus mengingat prinsip-prinsip bioetika dan pada pendidikan publik yang dilakukan dan dievaluasi secara berkesinambungan, di samping kesetiaan pada kemanusiaan dan norma ilmiah.

Program UNAIDS

Beberapa program yang dicanangkan dari UNAIDS untuk mengurangi stigma dan diskriminasi yang terjadi di seluruh dunia. diantaranya:

  1. Pengurangan stigma dan diskriminasi
  2. Pelayanan hukum yang terkait dengan HIV
  3. Memonitor dan mereformasi hukum, regulasi, dan kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan HIV
  4. Literasi Hukum (“Ketahui hak kamu”)
  5. Meningkatkan kepekaan pembuat dan penegak hukum
  6. Pelatihan untuk penyedia kesehatan dalam HAM dan etnik medis yang berhubungan dengan HIV
  7. Mengurangi diskriminasi terhadap kaum perempuan dalam konteks HIV

Dan dari program-program ini akhirnya lahirlah misi “Getting to Zero” yang akan menjadi target semua pihak yang berkecimpung di bidang HIV dan AIDS. Di mana tidak ada lagi:

  1. Zero New Infection di mana tidak ada lagi penularan baru HIV di dunia.
  2.  Zero Death-related to HIV AIDS di mana tidak ada lagi kematian akibat dari penyakit yang timbul dari adanya AIDS.
  3.  Zero Discrimination di mana tidak ada lagi stigma dan diskriminasi yang timbul akibat dari HIV AIDS kepada Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) dan Anak Dengan HIV AIDS (ADHA).

Selain Getting to Zero, juga ada target lain yang ingin dipenuhi pada tahun 2020 ini, yaitu 90-90-90 dimana dari ketiga target Getting to Zero itu, 90% sudah terpenuhi di tahun 2020.

  1. 90% orang yang hidup dengan HIV mengetahui status mereka.
  2. 90% yang mengetahui status HIVnya sedangan dalam pengobatan ARV
  3. 90% orang yang dalam pengobatan ARV sudah dapat ditekan virusnya

Contoh Kasus

Kita sudah banyak mendengar stigma dan diskriminasi yang dialami oleh orang yang hidup dengan HIV AIDS di dunia. Dari pengucilan yang diberikan oleh masyarakat sekitar, ditolak oleh keluarganya sendiri, terasingkan, bahkan sampai pemberian stigma dari tenaga medis yang di mana semestinya bisa memberikan bantuan.

Tidak sedikit juga identitas orang yang hidup dengan HIV AIDS dengan sengaja dibuka ke umum oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Mestinya hal itu tidak terjadi karena ODHA juga mempunyai HAK yang sama dengan orang lain dan identitas maupun status HIV positifnya tidak dibuka oleh pihak manapun kecuali ODHA itu sendiri.

Stigma dan Diskriminasi menjadi tantangan yang berat untuk dilalui di Indonesia saat ini. mesi kebijakan di tingkat nasional sudah ada, namun implementasinya di provinsi, kabupaten, maupun daerah-daerah lain masih bisa dikatakan cukup jauh dari kata ideal.

Menurut Prof. Zubairi Djoerban Untuk menumbuhkan respon yang efektif terhadap epidemi HIV/AIDS dan penghormatan terhadap hak asasi para odha diperlukan perlu keikutsertaan banyak pihak: mulai dari tanggung jawab pemerintah, penerapan reformasi undang-undang, peningkatan upaya dukungan, serta penciptaan lingkungan yang mendukung untuk para odha oleh masyarakat dan pelaku bisnis.

#ZeroStigma

Di tahun 2020 ini, berkesinambungan denga tujuan dan misi dari WHO, UNAIDS, dan juga Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Yayasan AIDS Indonesia mencanangkan program #ZeroStigma yang bertujuan untuk mengurangi stigma yang ada di masyarakat terhadap orang yang hidup dengan HIV AIDS.

Diharapkan program-program yang akan dijalankan kedepannya akan membantu semua pihak untuk meningkatkan kesadaran dan juga mengurangi stigma yang masih sangat kuat dan luas di masyarakat Indonesia.

Yayasan AIDS Indonesia juga membutuhkan bantuan dan komunikasi dari setiap masyarakat yang sudah disuluh untuk bisa menyebarluaskan informasi terkait HIV & AIDS.

Semua ini diperlukan untuk berperang melawan stigma yang masih tinggi di masyarakat, bantuan seperti apapun sangat diperlukan untuk menuju goal tersebut, salah satunya dengan cara berdonasi, jika ada dari sahabat YAIDS yang ingin memberikan donasi, bisa langsung menuju ke sini.

Dalam memperingati hari keadilan internasional, mari bersama tegakkan keadilan dan perangi 4 kategori besar kejahatan internasional. Termasuk ODHA yang harus mendapatkan keadilan dalam mengakses setiap layanan HIV dan juga keadilan sosial sebagai Hak Asasi Manusia.

Yuk terhubung dengan yaids di sosial media kita :
Instagram
Twitter
Facebook
Youtube
E-mail: info@yaids.com
Hotline: (021) 549-5313
WhatsApp

+62 813-6099-1993 (Konseling dan Chat Only)

+62 813-1775-9645 (Kerjasama dan Chat Only)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here