Beranda All News & Media Stigma

Stigma

557
0
Donasi di kitabisa.com/perangistigmadandiskriminasi
Sumber foto: instagram.com/yaids
Advertisement

Yoo Sahabat YAIDS

Stigma adalah fenomena yang sangat kuat dengan efek yang sangat luas kepada targetnya (orang yang terkena stigma) (Crocker et al. 1998, Jones et al. 1984, Link & Phelan 2001).

Advertisement

Stigma telah banyak dikaitkan dengan kesehatan mental yang buruk, penyakit fisik, status akademik yang rendah, status sosial yang rendah dan kemiskinan. Kurangnya akses ke edukasi, memiliki tempat tinggal, dan pekerjaan juga bisa menjadi faktor penyebab stigma.

Definisi Stigma

Menurut Merriam-Webster stigma secara umumnya adalah “an identifying mark or characteristic” tanda dari sesuatu yang memalukan menurut mayoritas di seseorang, atau sebuah diskredit yang muncul akibat dari perilaku seseorang di masa lalu. Dan secara spesifik adalah “a specific diagnostic sign of a disease” yang bisa juga berarti sebuah tanda diagnosa secara spesifik dari sebuah penyakit.

Sedangkan menurut dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) stigma adalah sebuah ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya.

Stigma sendiri dalam bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia merupakan pinjaman kata dari bahasa Latin stigmat-, stigma, yang berarti sebuah “tanda, cap”. Dan juga dari bahasa Yunani kuno stizein yang berarti “untuk dirajah”.

Dahulu kata ini digunakan untuk mendefinisikan luka yang muncul dari besi yang dipanaskan, seperti sebuah cap, atau “branding” dalam bahasa Inggris.

Penggunaannya kata stigma di masa modern lebih kepada luka yang figuratif, dimana luka disini bukan berarti yang terlihat secara kasat mata maupun luka yang terlihat secara fisik di tubuh seseorang.

Stigma lebih banyak direferensikan sebagai sesuatu yang negatif dan terkadang tidak adil maupun rasional yang diberikan oleh masyarakat mayoritas atau komunitas masyarakat tertentu.

Definisi Dari Sisi Psikologis

Menurut dari Goffman (1963), stigma adalah diskredit atribut secara luas yang dilekatkan kepada seorang individu yang dapat mengurangi individu tersebut dari keseluruhan dan kebiasaan yang dimiliki individu tersebut sampai pada tahap yang sangat rendah.

Menurut Rizky Nadia yang merupakan seorang relawan Yayasan AIDS Indonesia yang saat ini sudah menempuh gelar Magister di bidang Psikologi Klinis, berpendapat bahwa stigma itu merupakan suatu penilaian negatif terhadap orang lain.

Sebelum stigma ini muncul ada yang namanya prasangka. Prasangka ini dapat bersifat positif ataupun negatif, tetapi prasangka biasanya merupakan sikap negatif terhadap individu dari suatu kelompok sosial tertentu.

Dalam sebuah stigma di masa modern, “tanda” menjadi sesuatu yang dikaitkan dengan “posisi yang sangat rendah”-evaluasi negatif dan stereotip. Stereotip-stereotip ini secara luas diketahui oleh setiap lapisan masyarakat pada masanya, dan menjadi basis untuk mengeluarkan atau menghindari orang dengan stereotip tersebut.

Secara singkat, stigma hadir saat adanya label, stereotip yang negatif, pengucilan, diskriminasi, dan rendahnya status yang dimiliki seorang individu untuk mencegah stigma yang akan dilabeli kepada dirinya.

Keadaan Sosial dan Masyarakat

Keadaan sosial di masyarakat sangat berpengaruh terhadap sebab dan akibat dari stigma itu sendiri. Masyarakat dapat menjadi penyebab stigma yang muncul terhadap seseorang ataupun suatu kelompok tertentu. Masyarakat juga bisa menjadi penyelamat untuk mengurangi ataupun menghilangkan stigma yang sudah ada di dalam masyarakat itu sendiri.

Semua kembali lagi kepada kelompok masyarakat itu, apakah mereka bisa menerima individu/kelompok yang terstigma ke dalam kelompok sosial mereka.

Pendapat Dari Relawan

Menurut pendapat dari Rizky Nadia yang sudah membantu Yayasan AIDS indonesia untuk menyebarluaskan informasi terkait isu HIV dan AIDS ke masyarakat dan berinteraksi langsung “biasanya seseorang yang memiliki prasangka terhadap kelompok sosial tertentu cenderung menilai anggota dari kelompok sosial tersebut dengan cara yang sama (biasanya secara negatif).”

Dia menambahkan “contohnya, orang yang HIV positif adalah orang yang suka melakukan seks bebas atau orang yang suka menggunakan narkoba. Padahal ada juga orang yang HIV positif bukan karena hal tersebut. Melainkan misalnya karena orang tersebut adalah tenaga medis dan mereka tidak sengaja terpapar jarum suntik atau peralatan medis dari pasien yang HIV positif.”

Dari prasangka ini kemudian muncul diskriminasi, diskriminasi merupakan perilaku negatif yang ditunjukkan individu kepada anggota kelompok sosial yang menjadi objek dari prasangka tersebut kemudian ada yang namanya stigma.

Stigma ini yang sering kali biasanya kita dari Yayasan AIDS Indonesia ingatkan kepada orang-orang, seperti jangan memberikan stigma kepada teman kita yang ODHA.

Stigma ini dapat meliputi beberapa hal seperti ras, usia, logat bicara, cacat fisik atau penyakit dan hal lainnya. Terkadang stigma sering kali didasarkan pada asumsi yang tidak rasional, sebagaimana seperti prasangka.

Emosi yang dihasilkan dapat mempengaruhi dan dapat dialihkan juga kepada orang lain walaupun orang tersebut tidak memiliki stigma yang sama.

Contohnya ada seorang pekerja di panti ia memberitahu salah satu petugas baru bahwa ada salah satu WBS (Warga Binaan Sosial) yang positif HIV.

Lalu karena petugas yang baru ini tidak mengetahui informasi yang tepat mengenai HIV & AIDS maka petugas baru tersebut akhirnya bersikap kurang baik terhadap WBS tersebut.

Tetapi ketika petugas baru diberikan pemahaman informasi mengenai HIV & AIDS maka perilaku yang tunjukkan kepada WBS tersebut berubah menjadi baik.

Pendapat Dari Relawan

Sedangkan menurut Adi Tasya yang juga merupakan relawan Yayasan AIDS Indonesia yang saat ini mengejar Master Candidate at Peace and Conflict Resolution di Universitas Pertahanan Indonesia. Tasya berpendapat bahwa stigma dan diskriminasi tercipta karena pemisahan antara “Aku” dan “Mereka”.

Sifat ini timbul karena adanya perbedaan kondisi yang signifikan antara kedua belah pihak. Sehingga kemudian perasaan “Aku” dapat menjadi hal yang paling benar.

Sedangkan diskriminasi terhadap ODHA dapat tumbuh karena sifat ke”aku”an tadi tumbuh dan membentuk mindset-nya terhadap kelompok lawan. Seolah lawan merupakan hal yang salah, dan kebenaran selalu berada di sisi “aku” tersebut.

Diskriminasi terhadap ODHA salah satunya disebabkan oleh kurangnya wawasan atau pengertian mengenai HIV dan AIDS itu sendiri. Banyak orang yang sering menyangkutpautkan hal-hal negatif terhadap ODHA, seperti yang disampaikan dengan contoh WBS diatas.

Stigma terhadap ODHA ataupun kelompok masyarakat khususnya yang berada pada populasi kunci saat ini masih tinggi di masyarakat. Stigma bisa ada karena banyak orang yang takut akan hal yang belum mereka pahami sepenuhnya. Di sinilah tugas Yayasan AIDS Indonesia untuk memberikan edukasi terkait isu seputar HIV dan AIDS kepada masyarakat luas.

Penutup

Dalam melaksanakan tugasnya, Yayasan AIDS Indonesia juga memerlukan bantuan semua pihak yang terlibat. Baik dari relawan-relawan muda penuh dengan semangat membara yang siap membantu.

Yayasan AIDS Indonesia juga membutuhkan bantuan dan komunikasi dari setiap masyarakat yang sudah disuluh untuk bisa menyebarluaskan informasi terkait HIV & AIDS.

Semua ini diperlukan untuk berperang melawan stigma yang masih tinggi di masyarakat, bantuan seperti apapun sangat diperlukan untuk menuju goal tersebut, salah satunya dengan cara berdonasi, jika ada dari sahabat YAIDS yang ingin memberikan donasi, bisa langsung menuju ke sini.

Yuk terhubung dengan yaids di sosial media kita :
Instagram
Twitter
Facebook
Youtube
E-mail: info@yaids.com
Hotline: (021) 549-5313
WhatsApp

+62 813-6099-1993 (Konseling dan Chat Only)

+62 813-1775-9645 (Kerjasama dan Chat Only)

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here