Beranda All News & Media Selamat Hari Anak Internasional

Selamat Hari Anak Internasional

62
0
Sumber Gambar : https://www.unicef.org/world-childrens-day
Advertisement

Yoo, Sahabat YAIDS

Anak adalah masa depan bangsa dan negara, dan juga dunia. Anak-anak nantinya akan menjadi penerus baton pengetahuan dan juga budaya kepada generasi selanjutnya. Karena itu penting bagi kita untuk menjaga kondisi dan kesehatan anak-anak terutama ADHA penerus generasi selanjutnya.

Anak-anak juga tidak lepas dari jeratan HIV & AIDS, banyak anak-anak di seluruh dunia yang hidup dengan HIV & AIDS. Dan kebanyakan dari mereka tidak mengetahui status HIV-nya, selain karena belum begitu paham dan mengerti tentang HIV & AIDS itu sendri, ditakutkan Anak Dengan HIV & AIDS (ADHA) akan mendapatkan tekanan dan diskriminasi dari lingkungan sekitarnya.

Advertisement

ADHA dan Haknya dalam Menjalankan Aktivitas di Masyarakat

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendorong pemerintah pusat, pemerintah daerah dan juga masyarakat untuk melindungi serta memenuhi hak-hak dasar ADHA yang menjadi korban stigma dan diskriminasi. Sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak, yang dimana rincian pasalnya sebagai berikut:

  • Pasal 9 (1) Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakat.
  • Pasal 9.1.a. Setiap Anak mendapatkan perlindungan di satuan pendidikan dan kejahatan seksual dan kekerasan yang dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta didik, dan/atau pihak lain.
  • Pasal 59.g. Pemerintah, Pemerintah Daerah dan Lembaga Negara lainnya berkewajiban dan bertanggung jawab untuk memberikan Perlindungan Khusus kepada Anak (Dengan HIV/AIDS).
  • Pasal 67.C. Perlindungan khusus Anak dengan HIV/AIDS sebagaimana dimaksud dalam pasal 59 ayat (2) huruf g dilakukan melalui upaya pengawasan, pencegahan, pengobatan dan rehabilitasi.
  • Pasal 76A. Setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak.

Sayangnya komitmen pemerintah dalam memenuhi hak-hak ADHA belum didukung implementasi dari pasal-pasal perundang-undangan. Masih banyak masalah internal yang terjadi seperti koordinasi antar lembaga dan alokasi anggaran. Selain itu, masih banyak sektor pemerintahan belum berjalan seirama dalam upaya memenuhi hak-hak dasar anak dengan HIV & AIDS.

Stigma Masyarakat Masih Menjadi Faktor Penghambat

Dikutip dari theconversation.com Ironi yang terjadi saat pemerintah berusaha mengambil tindakan tegas kepada pelaku diskriminasi menunjukkan adanya permasalahan struktural dalam pemenuhan hak bagi anak dengan HIV & AIDS, yakni stigma dari masyarakat. Baik pemerintah maupun masyarakat sipil sepakat bahwa stigma masyarakat seringkali menjadi jalan buntu.

Umumnya masyarakat awam cukup paham bahwa HIV adalah virus mematikan dan menular. Namun, pengetahuan ini tidak diikuti dengan pemahaman bahwa penularan HIV & AIDS tidak lebih mudah dibandingkan dengan penyakit menular lain seperti tuberculosis (TB).

Di samping itu, masyarakat juga luput dari pemahaman tentang bagaimana cara hidup berdampingan dengan anak dengan HIV & AIDS. Masyarakat juga masih mengasosiasikan anak dengan HIV & AIDS dengan perbuatan orang tuanya yang dianggap negatif.

Mendorong Peran Serta Masyarakat

Masih mengutip theconversation.com, perlu adanya dorongan untuk tidak hanya menjadikan pemerintah sebagai satu-satunya pemegang kewajiban pemenuhan HAM bagi anak dengan HIV & AIDS. Meski tidak dapat dimungkiri bahwa pemerintah masih perlu meningkatkan kapabilitas manajerial dan alokasi anggaran.

Pemerintah juga perlu secara serius menyebarluaskan informasi yang utuh dan akurat tentang HIV & AIDS melalui cara yang tepat sebagai langkah awal untuk mengurangi stigma masyarakat. Masyarakat perlu dilibatkan sebagai salah satu pemegang kewajiban.

Sebagai elemen yang berada di lapisan bawah dalam struktur sosial, masyarakat perlu bertanggung jawab terhadap pemenuhan HAM bagi anak dengan HIV & AIDS. Masyarakat perlu didorong untuk menjadi pihak yang secara aktif bersolidaritas memperjuangkan hak-hak anak dengan HIV & AIDS.

Data Kasus ADHA

Kasus anak yang meninggal terkait HIV & AIDS sampai tahun 2012 di seluruh dunia mencapai 260.000 jiwa (UNAIDS, 2010). Secara umum, risiko kematian bayi dengan HIV positif sangat besar, hanya sejumlah kecil bayi yang lahir dengan HIV positif dapat bertahan hidup sampai umur 6 tahun (UNICEF, 2011). Di Indonesia sendiri rata-rata bayi dengan HIV positif meninggal sebelum usia 5 tahun.

Tingginya resiko kematian ini karena infeksi HIV tidak diobati dan tidak mendapatkan perawatan optimal atau penolakan dari orang yang seharusnya menjaga dan merawatnya seperti orang tua, wali dan kerabat (Avert, 2011). Masalah HIV & AIDS menjadi sangat berat dirasakan keluarga apabila menanggung beban hidup serta merawat anak yang menderita HIV & AIDS dalam lingkungan masyarakat yang memberikan stigma.

Pentingnya Dukungan Sebaya di Lingkungan ADHA

Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) yang pertama kali terbentuk di Indonesia pada tahun 1995, pola-pola dukungan KDS dimulai dengan pertemuan-pertemuan tertutup bagi ODHA untuk saling berbagi pengalaman, kekuatan dan harapan. Pola pun berkembang dengan kegiatan-kegiatan belajar bersama hingga keterlibatan ODHA lebih luas dalam penyebaran informasi dan advokasi terkait HIV.

Kelompok dukungan sebaya atau peer support group merupakan sebuah kelompok yang bertujuan mensupport setiap anggota kelompok dalam kehidupan keseharian mereka. Dukungan sebaya meliputi orang yang menghadapi tantangan yang sama misalnyapasien dengan infeksi tertentu, komunitas tertentu. Kelompok dukungan sebaya (KDS) sangat dikenal dalam konteks penanggulangan HIV/AIDS untuk memberikan support bagi orang yang terinfeksi HIV (ODHA) maupun keluarganya.

Penanganan ADHA di Dunia dan Indonesia

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan Thailand menjadi negara pertama yang berhasil mengurangi penularan human immunodeficiency virus (HIV) dari ibu kepada bayi, kemarin. Sejak 2000, Thailand menyediakan obat antiretroviral (ARV) dan proses pemindaian virus gratis kepada ibu hamil. Hasilnya, jumlah bayi tertular HIV menurun dari 1.000 bayi pada 2000 menjadi hanya 85 bayi pada 2015.

“Kemajuan Thailand menunjukkan berapa banyak yang dapat dicapai ketika ilmu pengetahuan dan obat-obatan didukung dengan komitmen politik yang berkelanjutan,” kata Direktur Eksekutif UNAIDS (Program PBB untuk Penanggulangan HIV/AIDS), Michel Sidibe dalam sebuah pernyataan.

Pemberian ARV selama kehamilan diyakini mengurangi risiko penularan kepada bayi lebih dari 1%. Sebaliknya, jika ARV diberikan kepada ibu dengan HIV selama kehamilan, kelahiran, dan menyusui, berisiko penularan virus kepada bayi turun sekitar 15%-45%. Kendati demikian, ARV tidak 100% efektif.

Diharapkan kedepannya penanganan ADHA di dunia, khususnya Indonesia akan lebih baik lagi, ini semua demi tujuan utama dari WHO di tahun 2030 nanti dimana target 90-90-90 tercapai secara global.

Yuk terhubung dengan yaids di sosial media kita :
Instagram
Twitter
Facebook
Youtube
E-mail: info@yaids.com
Hotline: (021) 549-5313
WhatsApp

+62 813-6099-1993 (Konseling dan Chat Only)

+62 813-1775-9645 (Kerjasama dan Chat Only)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here