Beranda Artikel Sedikit Cerita Tentang Tidak Terdeteksi

Sedikit Cerita Tentang Tidak Terdeteksi

24
0
Sumber: UNAIDS
Advertisement

The Story of The Undetectable

Yo, Sahabat YAIDS
Kali ini mari kita bahas soal “Tidak Terdeteksi”. Tidak Terdeteksi berasal dari kata deteksi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti kata deteksi adalah deteksi /de·tek·si/ /détéksi/ n usaha menemukan dan menentukan keberadaan, anggapan, atau kenyataan. Jadi bisa disimpulkan arti kata “tidak terdeteksi” adalah keadaan dimana tidak ditemukannya suatu hal setelah dilakukan usaha untuk menemukan hal tersebut. Mari kita ambil contoh, dari beberapa media belakangan ini banyak diberitakan orang yang sudah teridentifkasi secara postif terpapar virus Corona meskipun tidak terdeteksi adanya gejala-gejala penularan virus tersebut pada setiap individu, contoh lainnya dalam subyek HIV & AIDS adalah banyak kasus dimana ODHIV atau ODHA yang tidak terdeteksi virus HIV didalam tubuhnya meski sudah melakukan berbagai macam test seperti rapid test ataupun viral load.

Advertisement

Pada kenyataannya, banyak kejadian dimana seorang ODHIV atau ODHA yang tak terdeteksi HIV di dalam tubuhnya, kenapa hal tersebut bisa terjadi? Ada beberapa kemungkinan, salah satunya adalah individual tersebut disiplin dalam mengkonsumsi obat ARV (Anti Retroviral) dan juga melakukan pola hidup sehat sampai dimana ketika melakukan test dan tidak ditemukannya virus HIV di dalam tubuhnya. Kemungkinan lainnya adalah ada keselahan prosedur saat pelaksaan test namun hal ini sangat kecil kemungkinannya. Lalu apakah seseorang ODHA yang sudah dinyatakan tidak terdeteksi virus HIV didalam tubuhnya bisa disama artikan dengan sembuh? Perlu diperhatikan oleh sahabat YAIDS kenyataan bahwa jika sebuah virus masuk kedalam tubuh manusia, bisa dipastikan secara ilmiah virus tersebut akan berada terus di dalam tubuh manusia tersebut sepanjang hidupnya, dan pada saat tes dilakukan jumlah virus yang berada di dalam tubuh individu tersebut sangat sedikit jumlahnya dan bisa tidak terdeteksi oleh alat tes. Tapi bukan berarti individu tersebut sembuh dari HIV, virusnya masih tetap ada cuma tidak terdeteksi.

Secara fakta ilmiah di kalangan medis, baru ada dua kasus yang menyatakan seorang individu “sembuh” dari HIV, dikenal dengan sebutan “The Berlin Patient” dan “The London Patient”, namun pada kenyataannya sembuh disini bukan berarti terbebas dari HIV, virus tersebut masih bisa ditemukan di dalam tubuh pasien tersebut namun pada tahapan tidak berbahaya dan sangat kecil kemungkinannya berubah menjadi AIDS, lalu mengapa pasien tersebut bisa sembuh dari HIV? Timothy Ray Brown atau yang lebih dikenal dengan “Berlin Patient” adalah seorang ODHA yang akan melakukan transplantasi sumsum tulang belakang tahun 2007 karena dia memiliki Leukimia, namun setelah melakukan transplantasi dia berhenti mengkonsumsi obat ARV seperti biasa. Tiga bulan sesudahnya transplantasi, jumlah HIV di dalam tubuhnya ditemukan secara drastis menurun sampai pada level tidak terdeteksi, sementara level CD4nya terus meningkat. Pada tahun 2011 Timothy Ray Brown tetap berhenti mengkonsumsi ARV dan dinyatakan sembuh meski beberapa pihak tetap memperdebatkan apakah sembuh disini adalah tidak ditemukannya jejak virus didalam tubuhnya (sembuh secara steril) atau sembuh pada tahapan dia tidak memerlukan terapi ARV lagi (sembuh secara fungsi). Kasus yang sama persis juga terjadi pada “London Patient” sebelah tahun kemudian dimana seorang ODHA melakukan transplantasi sumsum tulang belakang karena Leukimia yang dideritanya.

Kemajuan teknologi medis umat manusia saat belum bisa mengeradikasi virus dari dalam tubuh manusia, belum ada penyakit yang disebabkan oleh virus bisa dieradikasi, contoh pada umumnya adalah virus Influenza yang menyebabkan flu pada manusia, obat yang ada saat ini hanya berfungsi untuk menona-aktifkan atau menekan laju pertumbuhan virus tersebut, setelah virusnya dinon-aktifkan sel darah putih atau sistem imun tubuh manusia bisa bekerja untuk menghentikan flu yang diderita oleh tubuh, ketika pada suatu saat virusnya aktif kembali karena beberapa hal yang memicu hal tersebut, maka flu bisa kembali menyerang tubuh manusia. Sama halnya dengan HIV, obat ARV hanya bekerja untuk menekan laju pertembuhan atau replikasi virus HIV didalam tubuh manusia sehingga sel darah putih atau imun tubuh dapat bekerja secara maksimal untuk melindungi tubuh dari serangan penyakit yang masuk kedalam tubuh. Namun perlu diperhatikan fakta bahwa pengkonsumsian obat ARV harus dikonsumsi seumur hidup, jika seorang ODHA tidak disiplin dalam mengkonsumsi obat ARV maka dikhawatirkan HIV yang ada dalam tubuhnya bisa bermutasi menjadi kebal atau resistan terhadap obat tersebut, jika hal ini terjadi, maka ODHA tersebut harus mengkonsumsi obat ARV lini kedua.

Ketika kita berbicara terkait penyakit yang berhasil dieradikasi, contoh yang paling nyata saat ini adalah penyakit Variola atau secara umum kita kenal dengan nama Cacar, penyakit ini disebabkan oleh virus Variola major atau Variola minor. Sejarah Cacar bila ditelusuri bisa sampai era sebelum sejarah mulai dicatat. Bukti pertama kali yang kredibel didapat dari mumi-mumi bangsa Mesir yang diperkirakan meninggal 3000 tahun lalu, selama abad ke-18 diperkirakan penyakit ini membunuh setidaknya kurang lebih 400 ribu bangsa Eropa setiap tahunnya, dan pada abad ke-20 mencapai 300-500 juta kematian setiap tahunnya. Dari pertama kali ditemukannya vaksin cacar oleh Edward Jenner tahun 1796, perlu waktu dua abad bagi para ilmuan dan peneliti untuk mengeradukasi virus tersebut, kasus cacar terkahir yang dicatat oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ada di tahun 1977 di negara Somalia benua Afrika, dan WHO secara resmi mengumumkan bahwa cacar berhasil dieradikasi tahun 1980, bagaimana dengan HIV? Kapankah umat manusia bisa menemukan kebebasan dari virus tersebut?.

Yuk terhubung dengan yaids di sosial media kita :
Instagram
Twitter
Facebook
Youtube
E-mail: info@yaids.com
Hotline: (021) 549-5313
WhatsApp: +62 813-6099-1993 (Konseling dan Chat Only)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here