Beranda All News & Media Peran Lembaga Pendidikan dalam Penanganan HIV & AIDS

Peran Lembaga Pendidikan dalam Penanganan HIV & AIDS

99
0
Advertisement

Yoo, Sahabat YAIDS

Lembaga pendidikan seperti sekolah, baik Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), ataupun Perguruan Tinggi dapat ikut serta berperan untuk menangani HIV & AIDS di Indonesia.

Yayasan AIDS Indonesia mengajak serta seluruh lembaga pendidikan di Indonesia untuk turut serta berperan dalam penanganan HIV & AIDS di Indonesia. Untuk mewujudkan target 90-90-90 di tahun 2030 dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan juga Pemerintah Republik Indonesia dalam penanganan HIV & AIDS.

Advertisement

Lembaga pendidikan adalah salah satu agen sosialisasi, sekolah merupakan lembaga penting dalam proses sosialisasi. Sebagai agen sosialisasi, sekolah mempunyai fungsi sebagai berikut:

  1. Sekolah menjadi media transmisi kebudayaan. Kebudayaan yang diteruskan dapat berupa ilmu pengetahuan, kecakapan, maupun nilai dan sikap.
  2. Sekolah mengajarkan peranan sosial. Dalam berbagai kegiatan di sekolah, seseorang diajari berbagai kecakapan. Mereka juga berkesempatan memegang peran dalam berbagai organisasi.
  3. Sekolah menciptakan integrasi sosial. Sekolah mengajarkan nilai-nilai hidup bersama dan tolerans. Nilai-nilai tersebut diterapkan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Bentuknya dapat berupa pemberian perlakuan, kesempatan, dan pelayanan yang sama kepada setiap orang.
  4. Sekolah melahirkan terobosan-terobosan baru. Proses belajar mengajar di sekolah memungkinkan terciptanya hal-hal baru yang positif.
  5. Sekolah membentuk kepribadian. Seseorang dibiasakan tertib, berpikir logis dan maju, hidup terencana, bekerja sama, berpacu dalam prestasi, saling menghargai dan tenggang rasa.

Lembaga Pendidikan Berperan dalam Sosialisasi Pencegahan HIV & AIDS

Sektor pendidikan merupakan mitra yang sangat penting dalam respon multi-sektoral upaya penanggulangan  HIV & AIDS secara nasional. Melalui pendidikan, generasi muda dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang memungkinkan mereka dan teman sebayanya terlindung dari infeksi HIV.

Sekolah dan guru memiliki peran penting dalam membangun generasi muda masa depan yang terbebas dari HIV. Sekolah memainkan peranan penting dalam pembentukan sikap, cara pandang dan perilaku generasi muda. Sementara itu HIV dan AIDS telah ada di hampir setiap negara di dunia.

Karena orang muda umumnya kurang informasi dan cenderung suka bereksperimen dengan perilaku baru yang berisiko tinggi, maka mereka biasanya lebih cepat terpapar HIV daripada kelompok usia yang lebih tua.

Disinilah peran sekolah dapat membantu mereka dalam membentuk dirinya untuk menghadapi kenyataan itu. Teman sebaya di sekolah dapat dimotivasi untuk bersedia mendukung dan bersikap positif terhadap Orang Dengan HIV & AIDS (ODHA).

Sekolah dapat juga menyediakan sarana lingkungan yang sehat di mana para remaja dapat belajar tentang HIV & AIDS. Studi yang dilakukan di seluruh dunia menunjukkan bahwa pemuda yang bersekolah lebih rendah kerentanannya untuk terinfeksi oleh HIV dan AIDS dibandingkan mereka yang putus sekolah.

Sekolah Sebagai Tempat Stabilisasi untuk Siswa yang Terkena Dampak HIV & AIDS 

Sekolah dapat menjadi tempat untuk memfasilitasi proses stabilitasi kembali hidup para siswa yang terinfeksi ataupun terkena dampak HIV dan AIDS bersama dengan teman dan guru. Lingkungan sekolah diharapkan memperhatikan stabilitas dan kenyamanan bagi para siswa-siswinya.

Stigma dan diskriminasi tidak dapat ditoleransi dalam lingkungan sekolah sebagai tempat stabilitas siswa. Peran guru penting untuk memberikan dukungan psikososial untuk anak-anak murid baik yang terpapar ataupun yang terdampak HIV & AIDS.

Guru seringkali menjadi orang pertama yang menyadari jika muridnya mengalami tekanan batin. Maka dari itu guru, komite sekolah dan tenaga kependidikan lainnya perlu dilatih untuk menyadari dan memberikan dukungan moral terhadap HIV & AIDS di lingkungan sekolah.

UNESCO: Masukan Pendidikan Pencegahan HIV ke dalam Kurikulum Sekolah

UNESCO menyarankan untuk menjadikan pendidikan pencegahan HIV sebagai salah satu kewajiban dalam kurikulum di sekolah merupakan salah satu cara yang efektif untuk melengkapi para siswa-siswi dengan informasi yang mampu melindungi diri mereka sendiri.

Pendidikan HIV & AIDS seharusnya menjadi bagian dari pendidikan kesehatan yang lebih luas, meliputi isu kesehatan reproduksi, isu penyalahgunaan narkona, dan Infeksi Menular Seksual (IMS). Untuk mencapai hal tersebut guru dan tenaga didik lainnya perlu dilatih tentang bagaimana memberikan pendidikan HIV & AIDS melalui pendekatan berbasis kecakapan hidup.

Selain itu diperlukan juga pengembangan pengajaran dan bahan ajar yang relevan dan sesuai dengan budaya setempat. Kepala sekolah, guru dan masyarakat perlu diyakinkan bahwa bahan ajar yang akan diajarkan itu sudah sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Banyak orang khawatir bahwa pengajaran tentang seksualitas, kesehatan reproduksi dan pencegahan HIV justru akan mendorong orang muda menjadi pelaku seks aktif.

Lembaga Pendidikan Berperan untuk Menghilangkan Stigma dan Diskriminasi Terhadap ODHA

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No. 21 Tahun 2013 yang mengatur mengenai penanggulangan HIV & AIDS di Indonesia, promosi kesehatan ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan yang benar dan komprehensif mengenai pencegahan penularan HIV dan menghilangkan stigma serta diskriminasi.

Edukasi dan promosi kesehatan mengenai bahaya HIV sebisa mungkin diberikan sejak dini, seiring dengan pemberian pendidikan seksual. Ini bisa dimulai sejak masa sekolah sehingga dapat meningkatkan kewaspadaan dalam menghidari perilaku yang berisiko, serta didukung oleh pihak keluarga dan lingkungan yang memadai.

Promosi kesehatan yang berkaitan dengan HIV & AIDS di sekolah-sekolah bisa dilakukan melalui kegiatan ekstrakurikuler seperti KSPAN (Kelompok Siswa Peduli HIV & AIDS) ataupun pemberian edukasi atau penyuluhan kepada siswa-siswa di sekolah.

Seperti yang dilakukan oleh Yayasan AIDS Indonesia selama ini, melakukan KIE (Komunikasi, Informasi, Edukasi). Kegiatan ini bisa dikombinasikan dengan KSPAN yang sudah terbentuk di sekolah agar output informasi mempunyai daya jangkau yang lebih luas lagi.

Dengan perkembangan jaman sekarang, media untuk mempromosikan bahaya HIV & AIDS bisa melalui kanal-kanal media sosial yang sudah tersedia, media ini bisa menjangkau semua lapisan masyarakat dan bisa diakses di semua kanal media sosial yang populer di masyarakat.

Jika pembaca ingin berkonsultasi langsung dengan Yayasan AIDS Indonesia, kita bisa terhubung di kanal-kanal berikut:

Instagram
Twitter
Facebook
Youtube
E-mail: info@yaids.com
Hotline: (021) 549-5313
WhatsApp

+62 813-6099-1993 (Konseling dan Chat Only)

+62 813-1775-9645 (Kerjasama dan Chat Only)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here