Beranda All News & Media Pandemi Covid-19 dan Dampak Kepada ODHA di Daerah

Pandemi Covid-19 dan Dampak Kepada ODHA di Daerah

19
0
Advertisement
Artikel oleh: Alfina Diah A.P – Relawan YAIDS 2019

 

 

Advertisement

 

Hai sahabat YAIDS, apa kabar? Semoga selalu dalam keadaan baik dan sehat semua ya.

Akhir akhir ini kita sedang digemparkan dengan wabah virus yang menyerang bumi kita. Ya tepat, Virus corona atau Severe Acute Respiratory Syndrome Corona Virus (SARS-Cov-2) atau lebih mudahnya disebut virus yang menyerang sistem pernapasan pada manusia.

Satu tahun berlalu sejak virus ini terdeteksi, kasus infeksi virus corona kian meningkat. Masyarakat menginginkan pandemi segera berakhir, namun kenyataannya situasi buruk ini belum akan berakhir. Jumlah kasus infeksi virus corona masih dinamis sebab semakin banyak masyarakat yang mengikuti tes, maka banyak pula kasus baru yang bermunculan, namun pemutus mata rantai virus ini belum di temukan.

Virus corona sangat mengkhawatirkan bagi seluruh masyarakat, tidak terkecuali bagi ODHA (Orang dengan HIV/AIDS). Berdasarkan survei cepat yang dilakukan oleh Strategic Information Advisor UNAIDS Indonesia dan dilansir oleh kompas.com terdapat sekitar 46.000 kasus baru infeksi HIV di bumi pertiwi kita ini, dengan data kematian akibat AIDS mencapai jumlah 38.000 kasus, bahkan situasi total data kasus HIV/AIDS keseluruhan sampai tanggal 21 Juni 2020 adalah sekitar 640.000 orang.

Strategic Information Advisor UNAIDS juga menyatakan bahwa ODHA memiliki kecemasan yang tinggi terpapar COVID-19. Kecemasan ini disebabkan oleh beberapa hal seperti kekhawatiran akan kesehatan pribadi dan keluarga, stigma terhadap HIV/AIDS, capability dalam pengobatan, serta isolasi dan keterbatasan aksesbilitas lainnya.

Pandemi Covid-19 dirasa sangat berdampak kepada ODHA sebab dampak yang diberikan lebih kompleks.

Dampak tersebut salah satunya adalah pada asksesbilitas dan distribusi ARV (anti retroviral). Yang mana sama-sama kita ketahui bahwa ARV (anti retroviral) adalah obat yang harus dikonsumsi rutin oleh ODHA, yang mana fungsi obat ini adalah untuk menurunkan laju perkembangan virus HIV didalam tubuh seorang ODHA.

Namun semenjak adanya pembatasan pergerakan daerah membuat distribusi obat ini menjadi terhambat. Dampak lainnya adalah terhadap layanan rumah sakit, terdapat beberapa modifikasi layanan seperti pendaftaran pemeriksaan secara online, hal ini dilakukan untuk menyederhanakan prosedur pemeriksaan sebab ODHA/ODHIV memiliki kecemasan dan potensi yang tinggi terpapar virus corona. Setelah mendapatkan nomor antrean, ODHA/ODHIV dapat datang sesuai jadwal dan melakukan pemeriksaan sesuai dengan protokol kesehatan yang sudah ditentukan.

Selain kedua dampak nyata tersebut, dampak lain yang dirasakan adalah pengalihan dan pengurangan pos anggaran ODHA untuk pandemic dalam penanganannya pandemik cukup membutuhkan biaya yang besar, oleh karena itu beberapa sektor anggaran harus dikurangi.

Seperti yang terjadi di NTT (Nusa Tenggara Timur) berdasarkan data yang dilansir oleh voaindonesia.com.  NTT menjadi kota yang cukup lambat dalam menangani ODHA/ODHIV di tengah pandemi, sebab NTT tidak memiliki anggaran untuk penanganannya.

Pengalihan pos anggaran untuk ODHA/ODHIV berdampak pada obat ARV dimana jumlah obat semakin terbatas di tiap daerah. Stok beberapa jenis obat ARV menjadi berkurang karena laboratorium untuk melayani ODHA/ODHIV digantikan untuk uji sampel bagi pasien yang terinfeksi Covid-19, sehingga layanan lab untuk ODHA/ODHIV terganggu.

Banyaknya tantangan dalam pelayanan ODHA/ODHIV besar harapan bukan menjadi hambatan untuk menekan penyebaran dan penularan virus corona di masyarakat luas. Hal ini tentu butuh kerjasama pemerintah terutama Dinas Kesehatan untuk memantau dan memastikan keberlangsungan layanan ARV pada ODHA/ODHIV agar tetap patuh minum obat ARV dan LFU (Lost To Follow Up) tidak meningkat.

Masyarakat juga harus perduli terhadap kesehatan diri dan keluarganya, oleh karena itu masyarakat perlu mengetahui status mengenai dirinya dengan memeriksakan ke rumah sakit atau puskesmas terdekat. Dengan harapan di tengah wabah pandemic Covid 19 ini, Menjadi titik bangkit untuk kita bersama guna mewujudkan Getting To Zero  di tahun 2030.

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here