Beranda All News & Media Mengenal CD4

Mengenal CD4

83
0
Sumber Gambar: Google
Advertisement

Yo sahabat YAIDS
Kita selalu mendengar nama CD4 ketika mendengar ataupun membaca penjelasan terkait HIV & AIDS, namun apa sih sebenarnya CD4 itu? kenapa HIV secara spesifik menyerang CD4? apa saja sih komposisi sel darah putih dalam tubuh manusia? fungsi CD4 dalam sistem pertahanan tubuh? dan bagaimana obat ARV dapat membantu CD4 untuk bertahan dalam penyerangan HIV? Kali ini Yayasan AIDS Indonesia akan mencoba membahas satu persatu pertanyaan tersebut, meski tidak secara mendetail dan mendalam namun diharapkan tetap dapat menambah wawasan kita terkait CD4 dan fungsinya terkait dalam isu HIV & AIDS.

CD4 pertama kali ditemukan pada akhir tahun 1970an dan pertama kali diketahui sebagai leu-3 dan T4, sebelum dinamai CD4 pada tahun 1984, pada tubuh manusia protein CD4 dikodekan oleh gen CD4. Dalam biologi molekular CD4 adalah singkatan dari Cluster of Differentiation 4 atau Kluster Diferensiasi adalah protokol yang digunakan untuk identifikasi dan investigasi molekul yang terdapat pada permukaan sel, khususnya di sini adalah sel darah putih pada manusia. CD4 juga adalah sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel-sel darah putih manusia, terutama sel-sel limfosit. CD4 pada orang dengan sistem kekebalan yang menurun menjadi sangat penting, karena berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh manusia menunjukkan berkurangnya sel-sel darah putih atau limfosit yang seharusnya berperan dalam memerangi infeksi yang masuk ke tubuh manusia.

Advertisement

Pada orang dengan sistem kekebalan yang baik, nilai CD4 berkisar antara 1400-1500. Sedangkan pada orang dengan sistem kekebalan yang terganggu (misal pada orang yang terinfeksi HIV) nilai CD 4 semakin lama akan semakin menurun (bahkan pada beberapa kasus bisa sampai nol). Jika disederhakan CD4 adalah bagian dari dalam sel darah putih yang berupa suatu protein yang membantu sel darah putih dalam menjaga imun tubuh dari serangan-serangan sel, kimia, dan partikel lain yang masuk kedalam tubuh. CD4 juga terkadang disebut sebagai pembantu sel T4, dikarenakan salah satu fungsi utama mereka adalah mengirim sinyal kepada sel imun bertipe lain, termasuk pembunuh sel CD8, yang kemudian menghancurkan partikel asing yang menginfeksi.
Kita sudah mengetahui bahwa darah mempunyai dua komponen yaitu sel darah merah dan sel darah putih, secara umum fungsi dari sel darah merah adalah sebagai pengantar oksigen ke seluruh bagian tubuh manusia, sedangkan sel darah putih mempunyai fungsi sebagai penjaga sistem kekebalan tubuh. Sel darah putih biasa disebut dengan “Leukosit”. Dalam keadaan normal ada 4 sampai 11 miliar sel darah putih dalam satu liter darah manusia dewasa yang normal. Sel darah putih bekerja secara mandiri dalam tubuh yang bisa bergerak secara bebas ke setiap bagiannya untuk berinteraksi dan menangkap seluler yang terinfeksi partikel asing dan mikroorganisme yang masuk ke dalam tubuh sel darah putih tidak bisa membelah diri ataupun bereproduksi dengan caranya sendiri, karena sel darah putih adalah hasil dari produk dari sel induk atau sel batang yang ada pada sumsum tulang. Sel darah putih pun memiliki banyak tipe, seperti Basofil, Eosofil, dan Neutrofil yang biasa disebut dengan Granulosit, ditambah dengan Limfosit dan Monosit. Jika berbicara terkait isu HIV & AIDS, CD4 merupakan salah satu dari tiga tipe dalam Limfosit namun secara spesifik CD4 merupakan Sel T, jenis lainnya adalah Sel B dan Sel Pembunuh Alami (Natural Killer, NK). Sel B mempunyai fungsi untuk membuat antibodi yang akan mengikat dan menghancurkan patogen asing, Sel T mempunyai beberapa bagian yaitu CD4 dan CD8 di mana CD4 berfungsi mengkoordinir tanggapan ketahanan dan untuk menahan bakteri intraseluler sedangkan CD8 berfungsi untuk membunuh sel yang sudah terinfeksi mikroorganisme asing, Sel Pembunuh Alami berfungsi untuk membunuh sel yang secara spesifik menunjukan gejala akan menjadi kanker.

Setelah penjelasan komposisi darah di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa CD4 adalah salah satu jenis dari sel darah putih yang bertipe Limfosit, lebih tepatnya Sel T dalam sel darah putih, CD4 berfungsi mengkoordinir tanggapan ketahanan dan untuk menahan bakteri intraseluler yang kemudian dilanjutkan oleh CD8 atau Sel Pembunuh alami untuk menghancurkan sel tersebut. Dalam isu HIV & AIDS kenapa HIV menyerang CD4 sudah menjadi bahan studi pada akhir tahun 1980an dan awal 1990an memberikan hipotesis “Kehancuran yang Dipercepat” CD4 Sel T oleh serangan viral, hipotesis ini mendapatkan validasi secara lansung dari eksperimen yang dilakukan. Berdasarkan teori ini, adanya respon homeostatik oleh hilangnya CD4 secara drastis oleh infeksi HIV dan diserang kembali oleh produksi sel-sel T, namun keseimbangan ini diganggu ketika produksi sel T untuk merespon homeostatis terhambat. Ini telah dibuktikan dari beberapa gambar analisis dari pengurangan jumlah CD4 dan penambahan seluler proliferasi dan apoptosis dalam individual yang sudah terinfeksi HIV. Akibatnya ketika CD4 sudah disusupi oleh HIV maka otomatis ketahanan tubuh menurun terhadap resistansi serangan seluler yang sudah terinfeksi partikel asing maupun mikroorganisme yang masuk ke dalam tubuh.

Ketika seseorang sudah terinfeksi oleh HIV maka dibutuhkan sebuah obat dengan fungsi yang bisa menekan laju pertumbuhan retrovirus (HIV adalah virus yang bertipe retrovirus), obat tersebut disebut dengan Antiretroviral (ARV) yang biasa digunakan dalam ART (Antiretroviral Treatment), Sedangkan ART adalah perawatan antiretroviral, ini juga bisa disebut sebagai kombinasi terapi pengobatan HIV. Fungsi sederhana dari ARV adalah menekan laju pertumbuhan HIV sehingga sel induk bisa memproduksi CD4 tanpa harus dihancurkan oleh HIV, ketika jumlah CD4 lebih banyak dari jumlah HIV dalam tubuh seseorang maka orang tersebut memiliki kekebalan tubuh yang normal kembali, partikel asing ataupun mikroorganisme yang masuk ke dalam tubuh dapat diatasi dengan baik tanpa adanya intervensi dari HIV, bahkan dalam beberapa kasus jumlah HIV tidak dapat terdeteksi setelah seorang individu rutin mengkonsumsi ARV dan melakukan tes viral load kembali. Maka dari itu kontribusi ARV sangat besar untuk pengendalian pembatasan jumlah HIV dalam tubuh seorang individu sehingga imun dapat kembali bekerja dengan baik, selain mengkonsumsi obat ARV, diharapkan individu tersebut juga dapat menjalankan pola hidup sehat dan meninggalkan kebiasan buruk yang dapat menghambat kinerja imun tubuh.

Yuk terhubung dengan yaids di sosial media kita :
Instagram
Twitter
Facebook
Youtube
E-mail: info@yaids.com
Hotline: (021) 549-5313
WhatsApp: +62 813-6099-1993 (Konseling dan Chat Only)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here