Beranda All News & Media Kita semua adalah “dokter” bagi ODHA

Kita semua adalah “dokter” bagi ODHA

31
0
Advertisement

Yoo, Sahabat YAIDS

Kita semua adalah “dokter” bagi ODHA, dokter di sini yang dimaksud adalah seseorang yang senantiasa mengingatkan ODHA untuk disiplin meminum obat ARV. Kita adalah kepanjangan tangan dan fungsi dari dokter maupun tenaga medis atau kesehatan untuk ODHA, membantu ODHA selama masa-masa kelam dan sulitnya, menjaga agar mereka tetap positif untuk menjalani hidup dan tetap optimis menghadapi tantangan kehidupan.

Meski tidak mempunyai latar belakang pendidikan medis ataupun sertifikat, tapi bukan berarti kita tidak bisa membantu ODHA untuk tetap disiplin mengkonsumsi ARV, mendampingi ODHA untuk mengakses layanan kesehatan tanpa ada diskriminasi. Selain itu kita tetap dapat memperoleh pengetahuan dasar terkait HIV dan AIDS tanpa harus memiliki sertifikat tenaga medis atau melalui pendidikan medis tertentu.

Advertisement

Ilmu itu bisa kita dapatkan dengan cara mencari semua hal yang terkait dengan HIV dan AIDS secara daring di internet maupun laring melalui membaca buku, dan tidak lupa untuk memverifikasi data ataupun pengetahuan yang kita dapat dengan tenaga ahli atau lembaga yang terkait.

Hari Dokter Nasional

Pada 24 Oktober 1950, Dr. R. Soeharto bersama dengan pengurus IDI saat itu seperti Dr. Sarwono Prawirohardjo, Dr. R. Pringgadi, Dr. Puw Eng Liang, Dr. Tan Eng Tie, dan Dr. Hadrianus Sinaga menghadap notaris R. Kadiman untuk memperoleh dasar hukum berdirinya perkumpulan dokter dengan nama Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Sejak saat itu setiap tanggal 24 Oktober selalu diperingati sebagai hari lahirnya Ikatan Dokter Indonesia. Di tahun 1993 IDI pertama kalinya ikut aktif dalam melaksanakan kampanye HIV dan AIDS dengan cara melatih para dokter sebagai konselor HIV dan AIDS.

Sejarah Dunia Kedokteran Indonesia

Sejarah dunia kedokteran di Indonesia memiliki kisah yang panjang. Ilmu kedokteran dibawa dari Eropa oleh para dokter untuk melayani militer Belanda, Tanggal 1 Januari 1851 dr. W. Bosch mendirikan Witeweden yang merupakan sebuah sekolah untuk pemuda-pemuda jawa menjadi dokter Jawa. Tahun 1890 nama sekolah kedokteran diganti menjadi School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA).

Tahun 1913 dibuka sekolah kedokteran di Surabaya yang diberi nama Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS). Tanggal 16 Agustus 1927 dibuka Geneeskundige Hoogeshcool (sekolah tinggi kedokteran) untuk menggantikan STOVIA yang akan ditutup tahun 1934.

Tahun 1927 berdirilah Perguruan Tinggi Kedokteran yang merupakan hasil perjuangan dokter-dokter di Indonesia dengan dukungan dari direktur dan mantan direktur STOVIA dan NIAS. Adalah Dr. Abdul Rivai yang pertama kali mengusulkan diadakannya pendidikan Universitas di Indonesia.

Tahun 1953 World Health Organization (WHO) mendatangkan tim kesehatan dari seluruh dunia untuk memberikan kuliah dan membagi ilmu-ilmu mereka di beberapa Universitas di Indonesia, seperti di Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Medan, dan beberapa kota besar lainnya.

Sejak saat ini juga dimulainya kerja sama-kerja sama dengan universitas di luar negeri. Sistem pendidikan dokter di Indonesia juga menjadi leih baik, pendidikan spesilis juga lebih cepat dan mudah. Dengan terus berkembangnya ilmu kedokteran di Indonesia, terjadi penambahan Fakultas Kedokteran juga didirakn di Sumatran Sulawesi, Bali, dan Jawa.

Kondisi saat pandemi

Ketika dalam masa pandemi seperti saat ini, dunia kedokteran menjadi sorotan, tidak sedikit dokter yang meninggal. IDI mencatat per 13 September 2020, sebanyak 115 dokter meninggal selama pandemi COVID-19. Kondisi ini merupakan fenomena yang memprihatinkan di dunia kesehatan, betapa besarnya pengorbanan seorang dokter dalam menjalankan profesinya.

Tidak hanya selama pandemi COVID-19, perjuangan para dokter dan tenaga medis lainnya untuk menangani HIV & AIDS dapat dilihat dari sejarah bagaimana satu demi satu penelitian dan studi dilakukan saat HIV mulai masuk ke Nusantara. Pembentukan Kelompok Studi Khusus (Pokdisus) AIDS pada Maret 1985 dibentuk untuk mengkaji masalah AIDS oleh satuan tugas RSCM dan FK-UI.

Tidak hanya dokter yang berjuang dalam mengkaji dan menangani HIV & AIDS, ODHA juga berjuang untuk tetap hidup dan memiliki semangat hidup yang sama dengan individu-individu lainnya. Banyak hal yang terjadi dalam diri seorang ODHA seperti perubahan pada fisiknya ataupun secara psikis.

Kita semua bisa menjadi “dokter” bagi seorang ODHA

Kita semua bisa menjadi dokter bagi seorang ODHA dengan berbagai cara yang sebenernya sangat mudah untuk dilakukan, yaitu memberikan dukungan pada ODHA. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) ada beberapa cara sederhana tetapi konkret yang bisa kita lakukan untuk mendukung ODHA di sekitar kamu, seperti:

  • Tumbuhkan Tanggung Jawab ODHA Terhadap Pengobatannya.
  • Mengikutsertakan ODHA dalam Setiap Interaksi Sosial.
  • Jangan Sungkan untuk Mendiskusikan Tentang HIV dan AIDS.

Kita semua bisa menjadi seorang dokter bagi ODHA, dengan cara memberikan dukungan sosial pada ODHA. Dukungan sosial menurut Baron dan Byrne (2000) mendefinisikan dukungan sosial sebagai kenyamanan fisik dan psikologis yang diberikan oleh teman-teman dan anggota keluarga.

  • Dukungan sosial didefinisikan sebagai dukungan dari ruang lingkup kecil maupun besar yang berupa kenyamanan fisik dan psikologis.
  • Dukungan emosional dan penghargaan. Kedua dukungan ini mengarah pada pemberian perhatian, kepedulian, ekpresi empati, dan kasih sayang pada ODHA. Selain itu, Kita juga bisa memberikan dorongan yang positif serta menghargai ide, keputusan, dan perilaku yang ODHA lakukan.
  • Dukungan Instrumental. Dukungan ini mengarah pada pemberian bantuan secara langsung atau tidak langsung yang dapat berupa jasa atau benda. Misalnya, memberikan perlengkapan hidup, kebutuhan rumah tangga, dan membantu ODHA mengurus kehidupan mereka.
  • Dukungan Informasi. Dukungan ini mengarah pada pemberian saran, nasihat, kritikan, dan masukan yang dapat membantu ODHA untuk menghadapi kerasnya hidup dan perlakuan diskriminatif yang mungkin diterima dengan sabar dan tabah.
  • Dukungan persahabatan. Dukungan ini erat kaitannya dengan hakikat kita sebagai makhluk sosial. Dukungan ini mengarah pada pemberian dukungan berupa penerimaan dalam sebuah kelompok atau lingkungan sehingga ODHA merasa diterima sebagai bagian dari masyarakat.

Yuk terhubung dengan yaids di sosial media kita :
Instagram
Twitter
Facebook
Youtube
E-mail: info@yaids.com
Hotline: (021) 549-5313
WhatsApp

+62 813-6099-1993 (Konseling dan Chat Only)

+62 813-1775-9645 (Kerjasama dan Chat Only)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here