Beranda All News & Media Pengaruh Stigma dan Diskriminasi Bagi Kesehatan Jiwa Seorang ODHA

Pengaruh Stigma dan Diskriminasi Bagi Kesehatan Jiwa Seorang ODHA

81
0
Sumber : https://pph.atmajaya.ac.id/berita/artikel/layanan-psikologis-dan-kesehatan-jiwa-dalam-penanggulangan-hiv-aids/
Advertisement

Yo, Sahabat YAIDS

Di kesempatan kali ini kita akan membahas pentingnya kesehatan jiwa bagi seorang ODHA. Kesehatan mental adalah keadaan sejahtera di mana seseorang menyadari kemampuannya sendiri, dapat mengatasi tekanan hidup secara normal, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi kepada komunitasnya.

Menurut World Health Organization, beberapa fakta kunci terkait kesehatan mental:

Advertisement
  • Kesehatan mental lebih dari tidak adanya gangguan mental seseorang.
  • Kesehatan mental adalah salah satu bagian integral untuk kesehatan tubuh secara keseluruhan, sudah pasti tidak ada kesehatan menyeluruh tanpa adanya kesehatan mental.
  • Kesehatan mental ditentukan oleh luasnya ekonomi-sosial, biologis dan faktor lingkungan seseorang.
  • Fasilitas kesehatan publik yang terjangkau dan strategi lintas sektor dan campur tangan ada untuk mempromosikan, melindungi dan mengembalikan kesehatan mental.

Di Indonesia sendiri, kesehatan jiwa sudah diatur di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2014 Tentang Kesehatan Jiwa. Secara singkatnya kesehatan jiwa adalah kondisi dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya.

Ada beberapa penelitian kesehatan jiwa seorang ODHA di Indonesia yang dilakukan untuk menunjukan dampak seorang individu yang terinfeksi HIV. Seperti penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta, dan juga penelitian yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung.

Pentingnya Kesehatan Jiwa

Kesehatan jiwa seorang ODHA sangatlah penting, jika mereka menjadi depresi mengetahui statusnya yang positif, bisa berakibat fatal seperti menjurus kepada pengakhiran hidup mereka sendiri.

Prof. Tjin mengatakan “ODHA atau ODHIV sulit untuk menerima diri mereka sendiri, ditambah dengan kekhawatiran mereka jika orang di lingkungan mereka mengetahui statusnya.

Ketika ODHA merasa khawatir dan terbebani dengan apa yang dideritanya, mereka cenderung lupa untuk melakukan pengobatan, termasuk psikis. Dalam keadaan ini, ODHA jadi merasa malu untuk datang ke konselor untuk bercerita tentang persoalan yang dihadapi. Banyak yang mengira jika ODHA datang ke konselor, maka kisahnya akan diceritakan ke orang yang dikenalnya.

Untuk mengatasi terjadinya peningkatan depresi yang dialami oleh ODHA, Prof. Tjin mengatakan perlu adanya berbagai pihak terkait untuk melakukan pencegahan dan penanganan yang optimal.

Penyebab Kesehatan Jiwa Menjadi Terganggu

Tidak dapat dipungkiri bahwa stigma dan diskriminasi yang terjadi di masyarakat menjadi salah satu penyebab kesehatan jiwa seorang ODHA menjadi terganggu. Pandangan masyarakat yang masih belum begitu paham isu HIV & AIDS memperparah kondisi, apalagi jika tenaga medis ikut menstigma atau mendiskriminasi seorang pasien jika mengetahui pasien tersebut adalah ODHA.

Stigma dan diskriminasi HIV mempengaruhi kesejahteraan emosional dan kesehatan mental orang yang hidup dengan HIV. Orang yang hidup dengan HIV sering menginternalisasi stigma yang mereka alami dan mulai mengembangkan citra diri yang negatif.

Mereka mungkin takut akan didiskriminasi atau dihakimi secara negatif jika status HIV mereka terungkap. dan secara tidak langsung ini mempengaruhi kesehatan jiwa mereka kedepannya.

Ada beberapa bentuk stigma internal atau stigma diri sendiri yang dialami ODHA, seperti banyak ODHA yang menganggap AIDS itu sendiri adalah akibat dari perilaku tidak baik, sehingga mereka takut untuk berbicara jujur kepada siapapun karena takut akan konsekuensinya.

Konsekuensinya bisa berupa seperti menjatuhkan harga dirinya sendiri, merasa rendah diri karena status positifnya, dan juga menutup diri dari lingkungan sekitar.

Semua itu bisa disebabkan karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang HIV & AIDS, stigma dan diskriminasi yang masih luas di masyarakat, dan juga ODHA yang merasa tidak ada yang bisa membantu dia melewati problematika yang sedang dihadapi.

Solusi Kesehatan Jiwa ODHA

Dikutip dari kompas.com, Guru Besar Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof Dr. dr. Tjhin Wiguna, Sp.KJ(K), mengatakan meskipun tidak semua ODHA mengalami gangguan jiwa, tetapi ODHA dan segala hal yang membebaninya sangat berpotensi mengalami gangguan mental.

ODHA sangat rentan untuk mengalami gangguan jiwa karena memiliki rahasia dan merasa terbebani dengan rahasia tersebut, rahasia di sini adalah penolakan diri dari kenyataan menjadi salah satu ODHA, dan juga beruhasa merahasiakannya dari orang-orang sekitar karena berbagai stigma dan diskriminasi yang ada di masyarakat dan ditujukan terhadap ODHA.

Jika hal ini tidak segera ditangani dan mendapat pelayanan jiwa yang tepat, tidak sedikit ODHA yang akan mengasingkan diri dari lingkungan sosial. Lebih buruk lagi , ini bisa memicu keinginan untuk mengakhiri hidup.

Ditegaskan lagi oleh Prof. Tjin, “seorang ODHA perlu sekali menerima bantuan pelayanan jiwa. Jika seorang ODHA mendapat pelayanan jiwa seperti konseling agar dapat belajar menerima dirinya sendiri seutuhnya, dan kemudian bisa beradaptasi dengan dirinya sendiri.

Jika ODHA tidak mampu menjaga rahasia dan hanya mememdam sendiri terkait apapun yang dia rasakan atau alami, semakin lama dia akan menjadi terbebani”.

Lewat konseling diharapkan agar ODHA mampu mengatasi persoalan yang dia hadapi, dan juga dapat membantu ODHA untuk menerima dan lebih percaya kepada dirinya sendiri.

Seorang ODHA memiliki hak yang sama dengan semua orang, ODHA berhak mendapat hidup layak dan lebih baik kedepannya, tanpa harus dihindari, dikucilkan ataupun mendapat perundungan.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan jiwa ODHA, antara lain

  1. Psikoedukasi terkait HIV & AIDS
  2. Penerimaan dan dukangan baik dari individu sendiri dan masyarakat sekitar
  3. Advokasi lintas kementrian dan organisasi
  4. Dukung ODHA konseling

Yayasan AIDS Indonesia juga melayani konseling bagi masyarakat yang membutuhkan. Konseling ini bisa dilakukan via telfon, platform chatting seperti WhatsApp, dan juga datang langsung ke kantor Yayasan AIDS Indonesia di jam kerja.

Yuk terhubung dengan yaids di sosial media kita :
Instagram
Twitter
Facebook
Youtube
E-mail: info@yaids.com
Hotline: (021) 549-5313
WhatsApp

+62 813-6099-1993 (Konseling dan Chat Only)

+62 813-1775-9645 (Kerjasama dan Chat Only)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here