Beranda All News & Media Kebahagiaan bagi Anak-anak dan Orang Tua Positif HIV

Kebahagiaan bagi Anak-anak dan Orang Tua Positif HIV

14
0
Sumber : https://www.google.com/imgres?imgurl=https%3A%2F%2Fkemenpppa.go.id%2Flib%2Fuploads%2Ffeature_image%2F3b332-pedoman-han-2020.png&imgrefurl=https%3A%2F%2Fkemenpppa.go.id%2Findex.php%2Fpage%2Fread%2F30%2F2745%2Fpanduan-hari-anak-nasional-han-2020&tbnid=dDlU1mpV4nupwM&vet=12ahUKEwjAn4KS9O7qAhXXFysKHXiEB0wQMygAegUIARDAAQ..i&docid=pRvqkVxakumAOM&w=1366&h=768&q=logo%20hari%20anak%20nasional%202020%20PPPA&safe=strict&ved=2ahUKEwjAn4KS9O7qAhXXFysKHXiEB0wQMygAegUIARDAAQ
Advertisement

Data Kasus

Estimasi data dari World Health Organization (WHO) mencatat bahwa terdapat 1.7 juta anak dengan rentang usia 0-14 tahun positif terinfeksi HIV pada akhir 2018.

160.000 angka kasus baru infeksi HIV pada anak, dan 100.000 anak meninggal karena sudah masuk ke dalam fase AIDS oleh penyakit oportunistik.

Advertisement

Apabila anak-anak (ADHA) dengan kasus positif HIV ini tidak diberikan akses untuk pengobatan, maka diperkirakan 50% akan meninggal pada usia 2 tahun, dan 80% tidak akan hidup lama sampai di ulang tahunnya yang kelima.

Sedangkan menurut data dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (KEMENKES) ada 12.935 kasus anak dengan usia 0-19 tahun yang tercatat positif terinfeksi HIV sampai akhir Maret 2020, 530 kasus baru infeksi pada anak di tahun 2020, dan 309 kematian anak karena AIDS sampai tahun 2020.

Agar memperkecil angka penularan dari orang tua positif HIV ke anak-anak, WHO menganjurkan agar bayinya untuk dilakukan test HIV pada usia dua bulan, ketika masa menyusui, dan ketika pada masa akhir menyusui.

Kondisi Saat Ini

Melihat pada data tersebut yang memaparkan jumlah kasus HIV/AIDS pada anak kemungkinan mereka untuk hidup, sayang sekali rasanya bagi kita jika tidak memberikan perhatian lebih agar mereka bisa hidup normal lalu tumbuh seperti anak-anak lain pada umumnya.

Tanggal 23 Juli adalah tanggal dimana Hari Anak Nasional diperingati, pada tahun 2020 isu yang dikedepankan adalah melindungi anak Indonesia dalam situasi darurat dan keadaan tertentu, adapun tema yang dipilih yaitu “Anak terlindungi, Indonesia Maju”.

Pada saat pandemik yang sedang berlangsung, mereka pada umumnya sangat rentan terkena dampak kesehatan, namun mereka yang positif HIV atau berasal dari keluarga yang positif sudah lebih dulu merasakannya, bahkan justru mereka mendapatkan dampak yang tidak baik seperti stigma dan diskriminasi.

Berawal dari stigma dan diskriminasi, tidak sedikit dari mereka kesulitan dalam mendapatkan hak pendidikannya, mendapatkan akses pengobatan untuk HIV, bahkan kehilangan waktu maupun tempat bermain dan momen tumbuh kembang di lingkungannya.

KASUS STIGMA DAN DISKRIMINASI TERHADAP ANAK (ADHA) DI INDONESIA

Sumatera Utara

Dua tahun belakang ini, sering terdapat kasus stigma dan diskriminasi pada anak-anak yang diliput oleh berbagai media berita, salah satunya mengutip dari kanal Youtube CNN Indonesia yang diliput pada tahun 2018 di House of Love – Komite AIDS HKBP Kabupaten Samosir, Sumatera Utara.

Liputan tersebut memberitakan bahwa terdapat 3 orang anak yatim yang tidak bisa mendapatkan akses pendidikan formal karena keberadaan mereka ditolak oleh orang tua siswa, lalu mereka yang sudah kehilangan orang tua ini pun tidak bisa bebas bermain seperti teman-teman mereka pada umumnya.

Masing-masing dari mereka adalah HH (11 tahun), SAS (9 tahun), dan SS 5 tahun hanya bisa belajar bersama orang tua asuh yang sekaligus relawan House of Love. Pada 10 Juli 2018, sebenarnya mereka sempat masuk ke sekolah, namun itu menjadi hari pertama sekaligus hari terakhirnya di sekolah karena keberadaannya ditolak oleh para orang tua siswa, dan mereka pun menjadi sedih dan terpukul.

Meski mendapatkan pendidikan dari orang tua asuhnya, anak-anak tersebut tetap ingin menimba ilmu di sekolah formal. HH (11 tahun) pun mencurahkan isi hati dan keinginannya agar bisa tetap mendapatkan pendidikan formal sekaligus cita-citanya.

Padahal sekolah formal seharusnya bisa menjadi sarana bagi setiap anak didik untuk bisa mempelajari dan memahami lingkungan sosial dan masyarakat di sekitarnya, dia mengatakan, “Aku ingin menjadi tentara, tidak apa-apa kelas 1 (SMP) yang penting aku bisa sekolah disitu, dan bisa bermain-main bersama kawan”.

Jawa Timur

Pada 1 Desember 2019, CNN Indonesia meliput kisah lain mengenai stigma dan diskriminasi yang datang dari seorang Mahasiswi di Surabaya, Jawa Timur, yang bernama Mawar (nama samaran) yang lahir dari orang tua HIV positif, namun dia dan adiknya tidak tertular dan statusnya negatif.

Mawar mengatakan, “…Aku dulu Ibu, ayah, sama adek ngekos pernah diusir. Terus habis diusir dari kost yang satu disebarin ke kost yang kita pindah, akhirnya kita diusir lagi, sampai akhirnya kita numpang…”. Namun, tidak semua lingkungan masyarakat melakukan hal yang sama terhadap Mawar dan keluarganya.

Mawar menyambung, “….Temen-temenku sendiri mungkin ada yang tahu, tapi lebih milih buat ngerangkul aku, men-support aku. Akhirnya dia tahu (status HIV aku), teman aku bertanya aku dan kemudian aku jawab, ‘terus kenapa kalau orang tuaku kayak gitu? Kamu gak mau berteman sama aku?’ terus dia jawab ‘ya tetap maulah’”.

Dari kisah-kisah mereka tersebut kita dapat melihat bahwa stigma dan diskriminasi masih saja berlanjut. Jika mereka itu bisa memilih, mereka akan memilih untuk lahir dari orang tua yang negatif HIV.

PASAL-PASAL UU PERLINDUNGAN ANAK

Namun dengan segala bentuk stigma dan diskriminasi, mereka tetap bertahan dalam memperjuangkan haknya dalam pendidikan dan mendapatkan dukungan moral dari lingkungannya. Untuk itu, mari bersama-sama kita berikan rangkulan terhadap mereka dan hilangkan stigma dan diskriminasi.

Pada Pasal (59) UU Perlindungan Anak disebutkan bahwa anak korban HIV/AIDS, harus diberikan perlindungan khusus. Pasal (67 C) juga menyebutkan bahwa Perlindungan khusus bagi anak dengan HIV/AIDS dilakukan melalui upaya pengawasan, pencegahan, pengobatan, perawatan dan rehabilitasi.

“Anak Korban HIV/AIDS itu memang benar adanya dan perlu dicarikan solusi yang berdasar pada: Kepentingan Terbaik Bagi Anak dan menghargai hak-hak lainnya yang melekat pada anak”

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise periode 2014-2019

 

Yayasan AIDS Indonesia juga mempunyai tujuan yang serupa di dalam visi dan misinya untuk menyebarkan informasi seluas-luasnya terkait HIV & AIDS dan juga memerangi stigma dan diskriminasi yang masih sangat kuat di masyarakat.

Tidak luput juga untuk melindungi generasi berikutnya agar tidak terinfeksi HIV. Demi mewujudkan “Getting to Zero” di tahun 2030 dan juga target “90-90-90” di tahun 2020 ini.

Di tahun 2016 dan 2017 Yayasan AIDS Indonesia juga melibatkan ADHA untuk memperingati Hari AIDS Sedunia dalam rangkaian kegiatannya. Kegiatan ini bertujuan untuk membantu ADHA agar lebih percaya diri dalam lingkungan sosial dan memberi masyarakat sosialisasi terhadap ADHA.

Di tahun 2020 ini Yayasan AIDS Indonesia mengangkat tema #ZeroStigma yang bertujuan memerangi stigma yang masih banyak terjadi di Indonesia. Dengan harapan kegiatan-kegiatan yang dijalankan oleh Yayasan AIDS Indonesia dapat membantu untuk mengurangi stigma di masyrakat.

Yuk terhubung dengan yaids di sosial media kita :
Instagram
Twitter
Facebook
Youtube
E-mail: info@yaids.com
Hotline: (021) 549-5313
WhatsApp

+62 813-6099-1993 (Konseling dan Chat Only)

+62 813-1775-9645 (Kerjasama dan Chat Only)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here