Beranda All News & Media Ibu HIV+ Tidak Lagi Khawatir Memberikan ASI

Ibu HIV+ Tidak Lagi Khawatir Memberikan ASI

37
0
sumber : https://waba.org.my/wbw/
Advertisement

Sudah 4 tahun berlalu tepatnya pada 2016, Minggu ASI Internasional atau World Breastfeeding Week diperingati pada tanggal 1 – 7 Agustus oleh World Health Organization (WHO) dan The United Nations Children’s Fund (UNICEF) dalam mendukung ibu menyusui di seluruh dunia. Peringatan ini diharapkan bisa meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memberikan ASI untuk pertumbuhan si kecil.

Data Kasus

Menurut WHO, secara global rasio presentase pemberian air susu ibu secara eksklusif masih kecil dibandingan dengan ketentuan umum untuk menjaga kesehatan bayi. Dalam kurun waktu 2013-2018, 43% bayi yang baru lahir diberikan ASI dalam satu jam setelah kelahiran. Hanya 41% infan dibawah 5 bulan mendapatkan ASI eksklusif.

Advertisement

Sementara itu 70% perempuan tetap memberikan ASI selama kurang lebih satu tahun, memasuki tahun kedua, angka ini turun ke 45%. Target secara global di tahun 2030 adalah 70% inisiasi dalam satu jam pertama setelah kelahiran, 70% untuk pemberian ASI secara eksklusif, 80% selama tahun pertama, dan 60% di tahun kedua setelah kelahiran.

WHO menyarankan kepada seluruh negara untuk fokus meningkatkan pemberian ASI demi menghasilkan populasi yang lebih sehat dan pintar. Secara global, negara-negara masih jauh dari mempromosikan, melindungi, dan mempromosikan ASI eksklusif.

Sudah menjadi tanggung jawab pemerintah masing-masing negara, pendonor, organasasi internasional, dan pelayan publik untuk saling bekerja sama dalam mempromosikan, melindungi, dan mempromosikan ASI.

Pembuat kebijakan dan legislatif mempunyai peran penting untuk menciptakan kondisi untuk pemberian air susu ibu secara eksklusif dan meyakinkan para keluarga mengambil langkah yang tepat untuk memberikan ASI kepada bayi mereka. Semua agar tercapainya peningkatan taraf hidup yang lebih baik.

Semua Ibu di dunia pasti memiliki keinginan dan kesadaran dalam memberikan ASI kepada anaknya, namun pada saat ini terdapat tantangan dalam memberikan ASI, mulai dari masalah ASI yang sedikit, pemilihan pompa elektrik untuk ASI Perah (ASIP).

Rata-rata Ibu baru menyusui pada umumnya memiliki tantangan bagaimana cara meningkatkan produksi ASI. Dilihat dari data The Center for Disease Control United States (CDC), bahwa sebagian dari 75 persen Ibu yang baru menyusui berhenti memproduksi ASI setelah bulan pertama menyusui.

Kondisi di Indonesia

Di Indonesia sendiri, berdasarkan hasil Riskesdas 2018 proporsi pola pemberian ASI pada bayi umur 0-5 bulan di Indonesia sebanyak 37,3% ASI ekslusif, 9,3% ASI parsial, dan 3,3% ASI predominan.

Menyusui predominan adalah menyusui bayi tetapi pernah memberikan sedikit air atau minuman berbasis air misalnya teh, sebagai makanan/minuman prelakteal sebelum ASI keluar.

Sedangkan menyusui parsial adalah menyusui bayi serta diberikan makanan buatan selain ASI seperti susu formula, bubur atau makanan lain sebelum bayi berusia 6 bulan, baik diberikan secara berkelanjutan maupun sebagai makanan prelakteal.

Dikutip dari mayo clinic, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kepada produksi ASI yang sedikit diantaranya adalah:

  • Kelahiran Prematur.
  • Ibu dengan Obesitas.
  • Ibu dengan tekanan darah yang tinggi.
  • Diabetes yang membuat insulin tidak terkontrol.

Meningkatkan Produksi ASI

Lalu, melihat kepada faktor produksi ASI yang sedikit, muncul pertanyaan bagaimana meningkatkan produksi ASI yang sedikit? Mayo clinic memaparkan bahwa ada beberapa cara untuk meningkatkan produksi ASI, berikut adalah pemaparannya:

  • Menyusui sesegera Mungkin. Menunggu terlalu lama untuk mulai menyusui dapat memengaruhi pada produksi ASI yang sedikit. Tipsnya adalah dengan menyusui bayi pada satu jam pertama setelah melahirkan
  • Menyusui lebih sering. Selama beberapa minggu pertama, sebisa mungkin Ibu melakukan pemberian ASI sebanyak 8 – 12 kali sehari dalam rentang waktu setiap 2 – 3 jam sekali.
  • Waspadai masalah makanan. Tawarkan kedua payudara pada setiap menyusui. Sebenarnya tidak masalah jika bayi hanya mengonsumsi ASI hanya pada satu payudara, namun jika dilakukan secara rutin maka akibatnya dapat menimbulkan penurunan produksi ASI. Maka dari itu, terdapat cara lain agar kedua payudara dapat optimal dalam memproduksi ASI yaitu dengan cara memompa ASI, cara ini selain dapat mengurangi tekanan juga bisa memberikan persediaan ASI yang cukup.
  • Jangan Melewatkan Sesi Menyusui. Pompa ASI setap kali akan melewatkan sesi menyusui untuk melindungi persediaan ASI.
  • Tahan Pemberian Dot. Tunggu 3- 4 minggu setelah kelahiran. Dalam waktu tersebut sebisa mungkin Ibu harus membangun persediaan ASI.
  • Gunakan Obat-obatan dengan Hati-hati. Hindari konsumsi obat-obatan yang mengandung pseudoephedrine (golongan dekongestan yang bekerja untuk meredakan pembekakan pembuluh darah di dalam hidung. Pseudoephedrine terserap dalam ASI, maka dari itu konsultasi dengan dokter untuk mengkonsumsi obat ini) Penyedia layanan kesehatan juga mungkin akan memperingatkan konsumsi obat-obatan, setidaknya sampai Ibu menyusui dengan baik.
  • Hindari Konsumsi Alkohol dan Nikotin. Konsumsi minumal beralkohol dalam jumlah sedang sampai berat dapat menurunkan produksi ASI dan merokok juga memiliki efek yang sama

Lantas, bagaimana dengan Ibu dengan status Orang dengan HIV & AIDS (ODHA)? Apakah Ibu ODHA tidak dapat memberikan ASI kepada bayinya karena khawatir bayinya akan terpapar HIV?

Menurut riset WHO, penularan HIV dari Ibu ke anak atau Mother to Child Transmission (MTCT) merupakan kontributor yang signifikan dalam penularan HIV dengan angka 9% untuk penularan secara global.

UNAIDS melaporkan pada tahun 2016 diperkirakan 160,000 anak baru terinfeksi HIV, dan ada 3,1 juta anak yang sudah hidup dengan HIV di dunia. Jumlah tersebut sangatlah besar, rata-rata setiap tahunnya terdapat 500,000 kasus penularan HIV dari Ibu ke anak.

Penularan dari Ibu ke anak memiliki presentase yang besar pada setiap fasenya tanpa pemberian obat Antiretrovial (ARV); 15–30 persen pada saat kehamilan dan persalinan, 5–15 persen pada saat pemberian ASI.

Untuk menangani masalah penularan HIV dari ibu ke anak, WHO merancang program Prevention of Mother to Child HIV Transmission (PMTCT), yaitu dengan menganjurkan metode yang tepat ketika masa kehamilan, proses melahirkan, dan ketika menyusui/memberikan ASI kepada bayi sehingga dapat menekan angka presentase total penularan HIV dari ibu ke anak menjadi 2 persen.

Rekomendasi WHO Terkait ASI

Berhubungan dengan hari ASI sedunia, kami akan menyajikan tips dan pesan dari WHO dalam merekomendasikan panduan menyusui untuk ibu yang terinfeksi HIV:

  • Pemberian ASI Eksklusif Selama 6 Bulan. Ibu yang diketahui terinfeksi HIV (dan yang bayinya tidak terinfeksi HIV atau status HIV tidak diketahui) harus secara eksklusif menyusui bayinya selama 6 bulan pertama, memperkenalkan makanan pendamping yang sesuai setelahnya, dan terus menyusui. Artinya, selama 6 bulan tidak boleh diberikan makanan pendamping lain atau mixfeeding, karena dikhawatirkan akan menimbulkan infeksi kecil pada saluran pencernaan bayi.
  • Ibu yang hidup dengan HIV harus menyusui setidaknya selama 12 bulan dan dapat terus menyusui hingga 24 bulan atau lebih (mirip dengan populasi umum). Pada fase ini, Ibu wajib melakukan konsultasi rutin dengan dokter dan disiplin dalam terapi menggunakan ARV.
  • Menyusui sebaiknya hanya dihentikan setelah diet yang memadai dan aman secara gizi tanpa ASI dapat diberikan.

Pesan dari WHO untuk mendukung Ibu HIV positif untuk terus memberikan ASI:

Otoritas kesehatan nasional dan lokal harus secara aktif mengoordinasikan dan mengimplementasikan layanan di fasilitas kesehatan dan kegiatan di tempat kerja, masyarakat dan rumah untuk melindungi, mempromosikan dan mendukung menyusui di antara perempuan yang hidup dengan HIV.

Komitmen Yayasan AIDS Indonesia

Di Yayasan AIDS Indonesia, meski belum ada program atau kegiatan khusus yang berkesinambungan dengan pemberian ASI oleh ibu yang positif HIV pada khususnya di Indonesia, namun Yayasan AIDS Indonesia tetap memberikan informasi terkait pemberian ASI dari ibu yang positif HIV kepada anaknya yang negatif.

Serta informasi-informasi lainnya yang berkaitan dengan Pencegahan Penularan HIV & AIDS dari Ibu ke Anak (PPIA) sesuai dengan pedoman dari pemerintah. Mulai dari masa perinatal sampai proses menyusui.

Diharapkan kedepannya, informasi-informasi yang disampaikan oleh para relawan-relwan Yayasan AIDS Indonesia bisa membuka wawasan baru masyarakat terhadap mitos-mitos HIV & AIDS yang ada di masyarakat, dengan tujuan tidak ada lagi stigma dan diskriminasi terhadap ODHA di Indonesia.

Yuk terhubung dengan yaids di sosial media kita :
Instagram
Twitter
Facebook
Youtube
E-mail: info@yaids.com
Hotline: (021) 549-5313
WhatsApp

+62 813-6099-1993 (Konseling dan Chat Only)

+62 813-1775-9645 (Kerjasama dan Chat Only)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here