Beranda All News & Media Hubungan Penggunaan NAPZA dengan HIV/AIDS

Hubungan Penggunaan NAPZA dengan HIV/AIDS

27
0
Advertisement

Halo, sahabat YAIDS! Seperti yang kita ketahui, akhir-akhir ini kasus penyalahgunaan NAPZA masih marak terjadi di Indonesia, bahkan sampai masuk ke kalangan public figure seperti selebriti. Hal ini tentu menjadi keresahan bagi masyarakat karena permasalahan NAPZA yang sudah ada sejak lama dan tidak kunjung selesai. Bahayanya lagi, penyalahgunaan NAPZA ini juga dapat berkaitan dengan penyebaran HIV/AIDS, lho!  Untuk mengetahui bagaimana hubungan antara penyalahgunaan NAPZA dan penyebaran HIV/AIDS, mari kita simak pembahasan pada kali ini.

Sebelum masuk lebih jauh, kita perlu mengetahui ada beberapa zat yang biasa digunakan dan dapat dikaitkan dengan risiko HIV. Berikut beberapa zat tersebut beserta penjelasannya.

Advertisement

 

  • Alkohol

Konsumsi alkohol secara berlebihan dapat meningkatkan risiko terkena HIV karena terkait dengan perilaku seksual yang berisiko. Selain itu, alkohol juga dapat menganggu hasil pengobatan antara orang yang hidup dengan HIV (ODHA).

  • Opioid

Opioid dapat dikaitkan dengan perilaku yang berisiko tertular atau menularkan HIV seperti berbagi jarum saat terinfeksi dan perilaku seksual yang berisiko. Ketika seseorang kecanduan dengan opioid, ia dapat melakukan berbagai cara untuk mendapatkan obat tersebut. Salah satunya dengan menukar seks dengan obat atau uang yang tentu semakin berisiko untuk terkena HIV.

  • Metamfetamin

“Meth” dikaitkan dengan perilaku seksual berisiko yang dapat membuat orang lebih mudah untuk terkena HIV dan penyakit menular seksual lainnya. Contoh perilaku seksual berisiko yaitu memiliki banyak (sering bergonta-ganti) pasangan saat berhubungan seks dan tidak menggunakan kondom.

  • Kokain

Kokain crack merupakan sebuah stimulan yang dapat membuat orang rela untuk menghabiskan sumber dayanya secara terus-menerus (bersiklus). Hal ini memungkinkan orang tersebut untuk melakukan berbagai cara agar mendapatkan obat yang meningkatkan risiko terkena HIV.

  • Inhalansia

Penggunaan amyl nitrite (dikenal dengan “popper”) biasanya digunakan ketika berhubungan seksual sehingga dapat dikaitkan dengan perilaku seksual berisiko dan penyakit seksual menular pada gay dan bisexual.

Salah satu risiko penularan HIV melalui penggunaan NAPZA adalah dengan penggunaan narkoba suntik. Hal ini dikarenakan jarum suntik dapat menjadi perantara untuk menyebarkan HIV dan juga virus-virus lainnya (seperti hepatitis B dan C). Ada sebuah penelitian baru yang menyatakan bahwa HIV dapat bertahan hidup paling sedikit empat minggu dalam jarum suntik bekas. Ketika darah yang terinfeksi virus tersebut masuk ke dalam semprit, jarum suntik tersebut berarti sudah terkontaminasi oleh virus. Kemudian, virus itu akan menyebar saat jarum suntik digunakan oleh pengguna berikutnya karena langsung masuk ke aliran darah.

Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa risiko HIV pada pengguna narkoba dan alkohol berkaitan juga dengan perilaku seksual. Tak jarang, orang-orang yang menggunakan narkoba merasa sulit untuk membatasi apa yang ingin dilakukannya. Mereka akan menggunakan berbagai cara, seperti salah satunya memperdagangkan seks untuk mendapatkan obat-obatan terlarang itu. Ketika berada di bawah pengaruh narkoba, seseorang akan memiliki risiko untuk berhubungan seks tanpa memperhatikan keamanannya.

Pengguna narkoba juga biasanya memiliki banyak pasangan dalam melakukan hubungan seksual. Tentu saja hal tersebut dapat meningkatkan risiko untuk terkena HIV atau penyakit menular seksual (PMS) lainnya, bisa jadi mereka yang tertular atau malah yang menularkan.

Jumlah kasus orang yang terkena HIV/AIDS (ODHA) yang disebabkan oleh NAPZA bisa dibilang tidak sedikit. Bahkan, kita bisa melihat bahwa kasus HIV karena penyalahgunaan

NAPZA masih ada hingga saat ini. Peningkatan kasus dapat terjadi karena orang-orang meremehkan bahayanya penggunaan NAPZA. Berikut adalah data-datanya.

Sumber : Direktur Jenderal P2P. (2020). Laporan Perkembangan HIV AIDS dan Penyakit Infeksi Menular seksual (PIMS) Triwulan I Tahun 2020. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktor Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit.

Dalam menangani masalah tersebut,  ODHA juga perlu menjalani rehabilitasi untuk menyembuhkannya dari ketegantungan NAPZA. Akan tetapi, mana yang harus didahulukan? Penanganan HIV/AIDS-nya atau rehabilitasi NAPZA-nya?

World Health Organization (WHO) menyarankan bahwa penanganan NAPZA pada ODHA tidak boleh ditunda. Penanganan NAPZA dan pemberian ARV (sebagai tindak pengobatan HIV/AIDS) dapat dilakukan secara bersamaaan. Interaksi antara obat ARV dan obat yang diberikan untuk penanganan NAPZA perlu diperhatikan secara khusus, contohnya metadon dan buprenorfin.

Oleh karena itu, ada dua cara pemberian ARV terhadap pengguna NAPZA.

  • Terapi ARV pada pengguna NAPZA suntik

Pada dasarnya, kriteria klinis dan imunologis untuk pemberian terapi ARV pada pasien yang memiliki ketergantungan NAPZA tidak berbeda dengan rekomendasi umum. Penjangkauan obat harus terjamin pada pengguna NAPZA suntik (Penasun) yang memenuhi syarat untuk terapi ARV. Selain itu, gaya hidup mereka yang tidak menentu perlu diberi perhatian khusus karena dapat berpengaruh pada kebatuhan terapinya. Oleh karena itu, pengembangan suatu program terpadu tentang perawatan ketergantungan obat (termasuk terapi substitusi) dengan HIV sangat dianjurkan sehingga pasien dapat terpantau dengan lebih baik.

  • Terapi ARV untuk individu dengan penggunaan metadon

Penurunan kadar metadon dalam darah dan tanda-tanda kecanduan opiat merupakan akibat dari pemberian metadon bersamaan dengan EFV, NVP, atau RTV untuk ODHA beriwayat penasun. Oleh karena itu, pemantauan tanda ketagihan wajib dilakukan dan dosis metadon perlu dinaikkan untuk menyesuaikan dengan gejala ketagihan tersebut. Pemberian ARV sendiri bukanlah sebuah kontraindikasi terhadap ODHA yang menjalani substitusi ketergantungan opioid (subsitusi metadon). Interaksi ARV dan obat-obatan lain lah yang perlu diperhatikan dengan terapi substitusi ketergantungan opioid. Selain itu, keaktifan ODHA dalam penyalahgunaan NAPZA juga harus diperhatikan, apakah ia masih aktif menggunakan NAPZA atau tidak selama terapi berjalan.

Keaktifan ODHA dalam penggunaan NAPZA tersebut perlu diperhatikan karena buruknya ketaatan ODHA terhadap penggunaan ARV. ODHA yang menggunakan NAPZA dapat mengalami risiko kegagalan karena ketaatan berobat empat kali lebih besar dibanding ODHA yang tidak menggunakan NAPZA. Hal ini dikarenakan kondisi ketergantungan ODHA pada NAPZA yang dapat meninggalkan konsumsi ARV-nya. Dalam kondisi adiksi, seseorang akan memiliki keinginan kuat untuk mengunakan NAPZA dan kesulitan untuk menghentikannya walaupun mengetahui risiko yang akan terjadi. Ia akan tetap mendahulukan penggunaan NAPZA dibanding kewajiban lain yang harus dilakukan.

Selain dapat menimbulkan ketergantungan, intoksikasi, dan sindrom putus obat, interaksi NAPZA dengan ARV dapat membahayakan ODHA dan dapat memperburuk kondisi medis ODHA berkaitan dengan infeksi HIV/AIDS. Metafetamin dapat menyebabkan peningkatan viral load dan pengurangan efikasi ARV. Selain itu, ODHA yang mengonsumsi alkohol dapat menyebabkan terjadinya pembesaran viral load  dan memiliki jumlah CD4 <500/μL dua kali lebih mungkin meski ODHA telah mengonsumsi ARV. Sementara itu, penggunaan mariyuana dapat menghambat peningkatan jumlah CD4 pada ODHA yang mengonsumsi ARV. Rokok yang mengandung nikotin pun juga berinteraksi dengan ARV. Angka mortalitas yang lebih tinggi ditemukan pada ODHA yang merokok karena penyakit akan lebih cepat berkembang.

Upaya terpadu yang mencakup penanganan penggunaan NAPZA dan kesehatan mental perlu  dilakukan guna mencapai target nol infeksi baru dan nol kematian pada HIV/AIDS. Selain itu, perlu juga untuk memperhatikan pemberian edukasi, penguatan kemampuan dalam menghadapi masalah, harm reduction, sampai pemantauan keefekifan dan efek samping obat dalam layanan terpadu HIV dan NAPZA.

Demikian penjelasan mengenai bagaimana hubungan penyalahgunaan NAPZA dengan penyebaran HIV/AIDS. Hal terpenting yang harus dilakukan adalah mengedukasi diri tentang bahaya penyalahgunaan NAPZA yang dapat mengarahkan kita ke perilaku berisiko untuk terjangkit HIV/AIDS. Sayangilah diri kita sendiri dan jauhkan diri dari penyalahgunaan NAPZA.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here