Beranda All News & Media Hilangkan Diskriminasi ODHA Di Lingkungan Kerja, Untuk Menuju Keterbukaan Dan Keharmonisan

Hilangkan Diskriminasi ODHA Di Lingkungan Kerja, Untuk Menuju Keterbukaan Dan Keharmonisan

82
0
Advertisement
Hari berganti minggu, Minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun. Tanpa disadari suka atau tidak suka kita sudah memasuki tahun baru 2022. Di tahun yang baru ini dan sama seperti tahun tahun sebelumnya, Pertumbuhan angka kematian dan kehidupan manusia tidak bisa ditahan lajunya. Yang mana tingginya akan kehidupan setiap tahun nya berdampak negatif untuk kehidupan sosial sehari hari.

Dampak negatif besarnya angka kelahiran yang tidak bisa ditahan lajunya adalah penduduk indonesia sudah semakin padat setiap tahun nya, lowongan kerja pun juga semakin sulit akibat pelamar sudah semakin besar dan karyawan perusahaan sudah banyak namun hal tersebut tidak sebanding dengan jumlah perusahaan yang bermunculan.

Pastinya kita juga ada di suatu bagian divisi dalam sebuah perusahaan, dan di dalam divisi itu kita memiliki rekan kerja yang setiap harinya melakukan aktivitas bersama – sama, tanpa kita mengetahui latar belakang rekan kerja kita secara utuh dan penuh. Mungkin saja kita hanya tahu dimana rumahnya, apa tanggung jawabnya dan bahkan hanya sebatas apakah sudah menikah atau belum.

Advertisement

Jarang sekali kita dapat mengetahui jauh lebih dalam perihal rekan kerja kita tersebut. Misalnya saja apakah rekan kerja kita punya penyakit yang dialaminya, apakah rekan kerja kita memiliki gangguan kesehatan lainya atau tidak? Mungkin kita tidak tahu banyak sampai sejauh itu.

Karena secanggih canggihnya dunia medis dan dunia kesehatan kita saat ini, masih ada beberapa penyakit atau virus yang bilamana kita terpapar oleh hal tersebut masih belum ditemui obat penawarnya. Misalnya saja HIV/AIDS, yang sampai saat ini dunia medis dan kedokteran di seluruh dunia masih belum berhasil mendapatkan obat penawarnya.

Efeknya pun dirasa sangat signifikan dan sangat berdampak buruk. Karena masyarakat masih sangat tabu dengan virus ini, Dan masih tidak tahu harus bagaimana dalam menyikapinya. Yang pada akhirnya, stigma dan diskriminasi di masyarakat tidak bisa dihindari terhadap virus ini, terutama bagi mereka yang sudah terinfeksi atau yang biasa kita sebut sebagai ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS).

“Ketidaktahuan masyarakat perihal HIV/AIDS nampaknya berdampak buruk untuk penyebarluasan epidemi virus ini.” 

Tercatat oleh kemenkes yang dikutip dari (Redlineindonesia.org) Selama tahun 2016, di Indonesia telah teridentifikasi kasus positif HIV lebih dari 40 ribu orang dari data yang dihasilkan oleh Kementerian Kesehatan RI. Dari total 40 ribu kasus tersebut paling banyak menyerang pria dan wanita, lalu ada pria penyuka sesama jenis  dan pengguna narkoba terutama narkoba jenis suntik.

Masih banyak yang belum tahu, bahwa HIV dan AIDS adalah 2 hal yang berbeda, secara singkatnya AIDS adalah tahap selanjutnya dari HIV apabila ODHA tidak cepat diidentifikasi dan diberikan obat ARV. Di Indonesia saja, sudah ada lebih dari 800 orang meninggal akibat AIDS dan ada lebih dari 7000 orang teridentifikasi sudah memasuki tahap AIDS di tahun yang sama.

Berdasarkan data terakhir Kemenkes RI rentang bulan januari sampai maret 2021, data terakhir yang ditunjukan Kemenkes RI ternyata sudah teridentifikasi sekitar 427.201 orang positif HIV, ada sekitar 131.417 orang yang sudah memasuki step AIDS di Indonesia dan sudah merenggut nyawa sebanyak 61.192 orang. Dalam rentan 5 tahun virus HIV sudah meningkat hingga 10 kali lipat.

Berdasarkkan data kasus di atas, kita bisa melihat dampak negatif dari ketabuan masyarakat terhadap virus ini. Dimana data kasusnya semakin bertambah setiap tahunya. Mungkin saja bertambah karena informasi yang kurang dipahami oleh masyarakat atau bahkan masyarakat yang tidak mengetahui informasi perihal virus ini.

Pentingnya ODHA untuk berani menjelaskan statusnya di Kantor

Maka dari itu, perlu peran serta aktif kita semua untuk mengetahui apa saja informasi perihal HIV/AIDS. Agar stigma dan diskriminasi bisa di tekan lajunya. Karena dengan masyarakat tahu perihal informasi virus ini hal buruk atau pandangan buruk masyarakat terhadap ODHA pun akan di tekan lajunya.

Membuka status bahwa kita adalah seorang ODHA memang bisa dikatakan bukan hal yang mudah, bahkan sangat sulit. Karena sudah kebayang dampak yang akan dirasakan bila kita membuka status kita sebagai seorang ODHA kepada masyarakat luas.

Namun demikian, membuka status kita adalah seorang ODHA nampaknya sangat penting dan bila mungkin memang harus dilakukan. Karena selain itu sebagai bentuk kita melindungi sekitar kita. Hal tersebut juga bisa dikatakan sebagai cara kita untuk mengedukasi masyarakat luas.

Dengan kita berani untuk mengungkapkan status kita, kita mampu memutus mata rantai penyebaran HIV, hal itu bisa terjadi melalui komitmen diri dan mendapatkan kenyamanan untuk menjalani kehidupan. Seperti memiliki teman atau kerabat yang menerima kondisi, memiliki hubungan pertemanan antar rekan kerja yang terbuka dan lebih terkontrol, dan bisa mendapatkan referensi untuk kelompok dukungan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Leslie Butt alasan kenapa masih banyak ODHA yang belum mau atau tidak berani untuk menjelaskan statusnya adalah karena takut didiskriminasi, karena mereka merasa resiko dari berani menjelaskan statusnya bisa dikucilkan oleh lingkungan. Hasil yang didapat dari studi yang dilakukan petrak di klinik HIV London timur inggris, rata-rata ODHA berani mengungkapkan serostatus HIV sebesar 68,2%. Kepada keluarga sebesar 53,4% dan yang terakhir kepada teman sebesar 62,7%.

Tips Menjelaskan Status ODHA kepada orang lain

Seperti yang diketahui masih sangat banyak Stigma negatif dan diskriminasi dari masyarakat terhadap ODHA, memang penting untuk ODHA mengungkapkan statusnya, namun ODHA harus tetap bersikap selektif kepada siapa dia mengungkapkan statusnya sebagai ODHA di lingkungannya. Karena Hal ini masih terbilang cukup tabu dan sangat dihindari oleh masyarakat yang masih belum memiliki pengetahuan dan wawasan mengenai HIV/AIDS

Didasari dengan perilaku tersebut, Maka dari itu kami memiliki beberapa tips yang kami kutip dari alodokter.com, hal apa saja yang harus dipertimbangkan sebelum menjelaskan status ODHA kepada orang lain:

  • Mulailah dari orang terdekat dan yang paling dipercaya, seperti kerabat dekat atau keluarga.
  • Membaca keadaan untuk mengetahui alasan kuat kenapa orang tersebut perlu mengetahui status kalian.
  • Bersiaplah untuk mendapatkan reaksi terburuk yang mungkin akan diterima.
  • Lengkapi diri dengan informasi mendalam tentang HIV, karena bisa saja reaksi mereka adalah bertanya mengenai HIV.
  • Apabila memutuskan untuk menjelaskan kepada atasan, sertakan surat keterangan dokter dan informasikan apakah kondisi anda sekarang akan mempengaruhi pekerjaan atau tidak.

Memang tidak mudah untuk membuka status kepada orang lain, namun setidaknya besar harapan dengan tips yang diberikan bisa membuka wawasan dan membuka pikiran sehingga temen temen ODHA di luar sana dapat membuka statusnya, dan kita yang tidak terinfeksi dapat menerima keberadaan mereka.

Pentingnya Lingkungan kerja untuk menghilangkan Stigma dan mendukung ODHA

Stigma dan diskriminasi terhadap ODHA adalah faktor besar kenapa mereka tidak berani menjelaskan statusnya sebagai ODHA bahkan masyarakat selain ODHA takut untuk mengetahui statusnya karena hal itu, Stigma dan diskriminasi masih menjadi kendala utama karena menimbulkan ketakutan. Lingkungan perusahan juga tidak luput dari serangan stigma dan diskriminasi kepada ODHA terutama rekan kerja terdekat bahkan bisa sampai ke atasannya karena tidak bisa mengambil keputusan yang baik.

Stigma dan diskriminasi bisa muncul karena kurangnya informasi dan pengetahuan yang luas mengenai apa itu HIV yang benar dan lengkap. Terutama bagaimana cara HIV bisa menular, cara pencegahannya, kebiasaan apa yang bisa menularkan dan apa saja yang tidak akan menularkan HIV. Stigma dan diskriminasi seperti inilah yang membuat pencegahan penularan HIV menjadi terhambat.

Memang sulit untuk menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA, namun dilihat dari kerugian yang ditimbulkan dari sikap tersebut, terutama apabila yang menjadi ODHA adalah rekan kerja atau kerabat kita, kita harus menghancurkan stigma dan diskriminasi tersebut. Terutama seorang atasan yang harus bisa mengambil sikap yang adil untuk menghilangkan diskriminasi tersebut dan membuat kenyamanan dalam lingkungan perusahaan.

Salah satu cara untuk menghapus stigma dan diskriminasi terhadap ODHA di lingkungan perusahaan untuk seorang atasan dan rekan kerjanya adalah memperdalam informasi mengenai HIV/AIDS, seperti mengetahui kebiasaan apa yang menularkan dan tidak, lalu melihat mitos dan fakta mengenai virus tersebut. Baru setelah itu mulai berbicara mengenai HIV kepada karyawan ODHA dan saling bertukar ilmu untuk memberi kita informasi bahwa kita ini bisa hidup berdampingan bersama ODHA apabila kita tahu kebiasaan apa saja yang menular dan tidak menular.

Mengenali Beragam Cara Penularan dan Pencegahan HIV

Pada dasarnya, HIV dapat ditularkan melalui 4 media cairan tubuh, yaitu darah, air mani, cairan vagina, dan air susu ibu (ASI) yang terinfeksi HIV. HIV tidak mengenal usia, jenis kelamin, suku dan ras, bahkan bayi yang baru lahir pun bisa tertular apabila meminum asi jika ibunya positif HIV

Berikut metode yang bisa menjadi media penularan HIV :

  • Hubungan seks, salah satu penularan HIV yang paling sering terjadi adalah akibat berhubungan seksual tanpa menggunakan kondom baik melalui vagina,  oral seks ataupun anal seks. Disamping itu orang yang suka berganti pasangan seksual memiliki resiko lebih tinggi untuk terkena HIV
  • Pengguna jarum suntik. Jarum suntik juga bisa menularkan apabila digunakan secara bergantian dengan orang yang terinfeksi HIV dan masih ada sisa darah tersebut di jarumnya. Media tersebut juga sangat tinggi untuk beresiko HIV
  • Tranfusi Darah. Banyak dari kita yang tidak tahu bahwa melakukan transfusi darah bisa menularkan HIV, namu kejadian tersebut sudah sangat jarang terjadi karena adanya tes screening untuk mengetahui adanya virus didalam darah yang akan didonorkan.

Kehamilan, persalinan dan menyusui. Seorang ibu bisa menginfeksi bayinya apabila tidak terbuka dan melakukan konsultasi ke dokter mengenai kehamilan, persalinan dan menyusui.

 

Berikut metode yang bisa mencegah penularan HIV:

  • Menggunakan Kondom dan alat kontrasepsi lainnya saat berhubungan seks. Alat ini digunakan apabila kalian meragukan status pasangan kalian, berbagai jenis kondom juga ada, baik itu kondom untuk pria dan kondom untuk wanita.
  • Hindari kegiatan seksual yang beresiko. Salah satu penyimpangan seksual yang berbahaya adalah anal seks, maupun ke lawan jenis ataupun yang sekarang marak adalah sesama jenis, hal ini sama resikonya apabila tanpa menggunakan kondom, bahkan bisa lebih buruk dan menimbulkan penyakit kelamin lainnya.
  • Hindari pemakaian alat pribadi secara bergantian. Contoh yang bisa diambil adalah seperti alat cukur maupun sikat gigi dan celana dalam, hal yang bersifat pribadi yang bisa menjadi tempat 4 media cairan tubuh masuk ke orang lain

Dengan masih banyaknya stigma dan diskriminasi yang sangat menghambat pencegahan HIV/AIDS, kita semua harus sadar bahwa sikap tersebut menjadi pekerjaan rumah dan tanggung jawab kita bersama. Bukan hanya untuk pencegahan HIV/AIDS agar lebih baik, namun kita juga punya sahabat ODHA yang ada di lingkungan kita yang butuh akan dukungan bukan untuk di diskriminasi.

Mereka punya hak untuk hidup seperti biasa tanpa ada rasa takut akan menerima stigma dan diskriminasi ketika menjelaskan statusnya. Dan untuk sahabat ODHA, mari bersama – sama kita memutus mata rantai HIV/AIDS ini dengan berani menjelaskan status kalian, dan jalani kehidupan yang lebih terbuka.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here