Beranda Artikel Hidup Berguna, Lalu Mati

Hidup Berguna, Lalu Mati

43
0
Advertisement

“Hari ini kaka ngaji atau engga? Hari ini apa yang kaka pelajarin di sekolah?”

Dan masih banyak hal lainya yang sering ditanyakan ibu saat waktu kecil dahulu. Perkataan itu masih saja terngiang di dalam ingatan dan juga masih kekal abadi di alam pikiran saya. Namun bedanya jika perkataan itu terkadang saat ini menjadi lelucon dan bahan guyonan di sebuah tongkrongan pinggir jalan agar ada bahan candaan dan juga ada bahan obrolan.

Advertisement

Namanya anak kecil yang masih belum menginjak 17 tahun, perkataan tersebut dianggap sebagai sebuah tekanan dan sebagai sebuah suruhan antara orang tua ke anak, agar sang buah hati bisa dikontrol kegiatan sehari-harinya.

Yah sudahlah, namanya juga anak kecil dunianya bermain, ditanya hal seperti itu mereka harus mencari seribu macam alasan agar bisa diterima oleh orang tuanya dan tidak mendapat marah darinya.

Kinipun saya sudah semakin beranjak dewasa, menjadi seorang pria yang tumbuh dan berkembang dengan bekal ilmu pengetahuan dan agama yang bisa dikatakan cukup untuk menjalani kehidupan di dunia.

Hari demi hari dilalui, beranjak dewasa dan menginjak bangku kuliah. Di fase kuliah ini lah akhirnya saya baru mulai menyadari perkataan orang tua dahulu yang ingin mengontrol kegiatan anaknya sehari-hari.

Persepsi saya pun menjadi tepecah-belah, Masih ada persepsi yang mengatakan itu menjadi sebuah tekanan terhadap anak kecil. Namun di lain sisi pun persepsi lainya berkata “Apakah orang tuaku ingin mengetahui hal baik apa saja yang sudah dilakukan anaknya seharian ini?”. Ah sudahlah, biarkan orang tuaku dengan persepsinya mereka mau memperlakukan aku seperti apa.

Namun pada akhirnya akupun ingin tetap berfikir secara positif, ibuku ingin menjadikan aku sebagai pribadi yang bisa berguna untuk kehidupan orang banyak. Bukan hanya sekedar hidup saja kemudian mati. Namun di lain sisi mereka ingin menjadikan aku untuk berguna terlebih dahulu untuk kehidupan banyak orang dan kemudian mati di akhir hayat nanti.

Semester demi semester saya lalui di bangku perkuliahan, persepsi itupun lambat laun semakin merangsang otak untuk bisa berguna untuk orang lain. Namun bagaimana caranya? Hatipun ragu apakah saya bisa berguna untuk orang lain atau tidak? Namun faktanya di lapangan mungkin saya sudah bisa dikatakan berguna untuk orang lain dengan memulai memimpin sebuah diskusi kecil dan merubah pemikiran banyak orang terhadap sesuatu hal, Baik yang kecil ataupun yang akhirnya berdampak besar untuk kehidupan orang tersebut.

Walau akhirnya sudah mulai merasa berguna bagi orang lain, Namanya manusia pastinya tidak akan pernah merasa puas dan tidak akan ada rasa puasnya. Mau lebih dari sekedar membantu atau berdiskusi yang akhirnya merubah pola pikir dari yang bersangkutan. Hari demi hari terus dilalui dengan sebagai mana mestinya seorang mahasiswa di perguruan tinggi swasta lainya di Jakarta.

Sampai pada akhirnya ada satu peluang yang membawa saya ke sebuah lembaga dan sebuah tantangan baru untuk membagikan informasi tentang HIV & AIDS. Lagi dan lagi hati ini ragu dengan peluang tersebut, “Saya bukan mahasiswa kesehatan, ini adalah bidang kesehatan. Apakah saya yakin bisa mengikuti dan bisa membagikan informasi ini kepada masyarakat?”. Sebagai seorang jiwa muda yang memiliki semangat tinggi, rasa ragu itupun akhirnya bisa dikalahkan dan lambat laun dihilangkan.

Yakin bisa dan mampu untuk menjadi bagian dari kegiatan ini, Sayapun memberanikan diri untuk mendaftarkan diri saya untuk membantu menyebarluaskan informasi tentang HIV & AIDS. Pelatihan demi pelatihan saya jalanin dengan keseriusan tanpa adanya rasa ragu, hingga akhirnya dinyatakan siap untuk turun ke lapangan guna membagikan informasi kepada masyarakat.

Turun ke lapangan dan membagikan informasi pun akhirnya saya jalanin tanpa adanya paksaan dan tanpa adanya rasa keberatan dari diri saya. Sampai pada akhirnya, ada satu titik dimana kepuasan hatipun terpenuhi dan sangat puas untuk menjadi manusia yang berguna saat itu.

Bermula menjalanin sebuah pemyuluhan di salah satu kelurahan di DKI Jakarta, Semua berjalan normal seperti apa adanya penyuluhan yang saya lakukan di tempat lain. Namun di akhir sesi hari itu menjadi sangat istimewa dan tidak akan pernah terlupakan.

Pasalnya, Ada seorang ibu datang menghampiri saya secara personal tepat di saat saya ingin meninggalkan tempat penyuluhan tersebut. Sang ibu yang berumur sekitar 45 tahunan ini meminta kepada saya untuk meluangkan waktunya secara personal.

Saya selalu memposisikan diri sebagai pelayan masayarakat bila melakukan penyuluhan di manapun saya turun penyuluhan, Dengan permintaan ibu tersebut nampak berat untuk saya secara pribadi. Namun di lain sisi, Sebagai seorang pelayan yang baik dan profesional. Sayapun mengiyakan ajakan dari ibu tersebut untuk meluangkan waktu beberapa saat untuk secara personal berdiskusi dengan beliau.

Sang ibu menceritakan keresahanya terhadap salah satu anggota di keluarga besarnya, terutama terhadap seorang keponakanya yang beliau sendiripun mengetahui bahwa keponakanya tersebut sudah terinfeksi HIV & AIDS Namun tidak mau membuka status dirinya bahwa dia adalah seorang ODHA (Orang Dengan HIV & AIDS).

Bagi sebagian orang hal itu nampaknya biasa saja, Namun bagi saya merasa itu sangat spesial. Bagaimana tidak, kami hanya bertemu dalam kurun waktu kurang lebih 45 – 60 menit saja. Namun si ibu sudah mau membuka masalah di dalam keluarganya sedemikian rupa, Bahkan ibu inipun memeluk saya dengan linangan air mata saking tidak bisa membendung kesedihan terhadap ponakanya yang terinfeksi tersebut.

Sampai di akhir sesi ibu bercerita dan saya menjabarkan solusi yang bisa dijalankan oleh beliau, dan singkat cerita saya meninggalkan tempat tersebut dengan hati yang puas, bahagia dan penuh rasa bangga.

“Hari ini saya sudah bisa memberikan pemahaman kepada mereka dan sudah bisa memberikan rasa nyaman kepada mereka, Betapa bergunaya saya hari ini untuk kehidupan sesama manusia”.

Yah seperti itulah gambaran sedikit indahnya menjadi seorang fasilitator, penyuluh atau pemberi informasi kepada masyarakat. Karena percayalah berguna hari ini dan bisa berbagi hari ini dengan 1 orang lebih baik dari pada bertemu dengan 1000 orang dalam 1 hari namun tidak berguna apa apa bagi mereka.

Hari itupun saya semakin yakin bahwa perkataan ibu saya waktu kecil dahulu adalah ini yang beliau inginkan, Anaknya bisa hidup dengan baik di dunia ini, anaknya bisa berguna dengan baik di dunia ini dan yang lebih dari itu suatu hari nanti anaknya bisa mati dengan penuh kebaikan atas apa yang dia lakukan di dunia ini

Hidup Berguna, Lalu Mati

Yuk terhubung dengan yaids di sosial media kita :
Instagram
Twitter
Facebook
Youtube
E-mail: info@yaids.com
Hotline: (021) 549-5313
WhatsApp: +62 813-6099-1993 (Konseling dan Chat Only)

(Artikel ini ditulis oleh relawan Yayasan AIDS Indonesia bernama Verrel Yudistira Prayoga, angkatan 2015. Editor: Tim Komunikasi dan Kerjasama Yayasan AIDS Indonesia)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here