Beranda Artikel Fenomena Gunung Es

Fenomena Gunung Es

1495
0
Sumber Gambar: Shutterstock
Advertisement

Kita sering kali mendengar fenomena gunung es (iceberg phenomenon) dalam setiap kali pemberian informasi terkait HIV & AIDS, namun apakah yang dimaksud dengan fenomena gunung es tersebut? Jika dikaji lebih dalam lagi, ditemukan bahwa ukuran gunung es yang berada di atas permukaan laut jika dibandingan dengan ukuran gunung es tersebut yang berada di bawah permukaan laut jauh lebih kecil adanya, perbedaan ukuran tersebut sangat signifikan, bisa mencapai dua kali lipat perbedaannya. Sebagai contoh gunung es yang ditabrak oleh kapal Titanic yang kita tonton di dalam filmnya tidak seberapa ukuran yang terlihat di atas permukaan, namun ukuran gunung es tersebut di bawah permukaan laut jauh lebih besar adanya, sampai bisa merobek kulit terluar dari lambung kapal tersebut sampai akhirnya menyebabkan tenggelamnya kapal tersebut. Fenomena gunung es bisa juga diartikan dengan dengan permasalahan dimana jika sebuah data secara resmi menunjukan sebuah jumlah, namun jumlah hasil tersebut jauh berbeda jika dikomparasikan dengan fakta jumlah sebenarnya yang ada di lapangan. Hal itu disebabkan karena banyak data yang luput pada saat pengumpulannya.

Fenomena gunung es banyak dikaitkan dengan berbagai permasalahan, salah satunya adalah dalam HIV & AIDS, dimana data resmi yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehatan suatu negara ataupun Organisasi Kesehatan Dunia baik tentang jumlah kumulatif penyebaran infeksi HIV jumlahnya sangat jauh dengan komparasi data yang sebenarnya berada di lapangan, hal ini disebakan karena beberapa hal, antara lain individu yang tidak terbuka dengan status HIV-nya karena stigma yang ada di dalam masyarakat ataupun individu tersebut benar-benar tidak mengetahui status HIV dirinya sendiri. Menurut data dari UNAIDS tahun 1997 adalah tahun dengan infeksi HIV tertinggi sepanjang sejarah, dan sampai tahun 2018 sudah terjadi penurunan kurva sebanyak 40%, sedangkan untuk kasus kematian yang disebakan oleh HIV puncaknya ada di tahun 2004 dan sudah menurun lebih dari 56% di tahun 2018. Di Indonesia sendiri merujuk pada Kemenkes Jumlah kumulatif infeksi HIV yang dilaporkan sampai dengan Juni 2018 sebanyak 301.959 jiwa (47% dari estimasi ODHA jumlah orang dengan HIV & AIDS tahun 2018 sebanyak 640.443 jiwa) dan paling banyak ditemukan di kelompok umur 25-49 tahun dan 20-24 tahun. Adapun provinsi dengan jumlah infeksi HIV tertinggi adalah DKI Jakarta (55.099), diikuti Jawa Timur (43.399), Jawa Barat (31.293), Papua (30.699), dan Jawa Tengah (24.757). Jumlah kasus HIV yang dilaporkan terus meningkat setiap tahun, sementara jumlah AIDS relatif stabil. Hal ini menunjukkan keberhasilan bahwa semakin banyak orang dengan HIV /AIDS (ODHA) yang diketahui statusnya saat masih dalam fase terinfeksi (HIV positif) dan belum masuk dalam tahap AIDS. Data yang disajikan oleh Kemenkes dan UNAIDS bisa dibilang adalah sebuah proyeksi dari jumlah sebenarnya data HIV & AIDS yang ada di lapangan.

Advertisement

Fenomena gunung es bukan hanya dikaitkan dengan HIV & AIDS saja, namun fenomena ini juga dikaitkan dengan infeksi Corona yang saat terjadi juga, pandemi COVID-19 yang berlangsung juga dikaitkan dengan fenomena gunung es dimana data resmi yang dikeluarkan lembaga kesehatan suatu negara berbeda dengan jumlah sebenarnya di lapangan, dan belum ada data resmi yang sesuai dengan keadaan sebenarnya di lapangan pertanggal 14 Mei 2020 dan sampai artikel ini diterbitkan.

Apakah fenomena gunung es ini bisa lepas dengan kaitannya dengan HIV & AIDS? Jawabannya adalah Bisa, dan tidak bisa. Bisa lepas kaitannya jika tes HIV gencar dilakukan di setiap komunitas masyarakat baik secara nasional ataupun global, jadi data yang dirilis secara resmi dari lembaga kesehatan jika disandingkan dengan keadaan sebenarnya di lapangan sesuai. Tidak bisa lepas kaitannya jika rasa peduli masyarakat sangat kurang untuk mengetahui status HIV-nya, terlepas dari pernah atau tidaknya seseorang individu melakukan hubungan yang berisiko. Jadi ini semua kembali lagi kepada setiap pemangku jabatan dan kepentingan untuk mengambil sikap seperti apa dalam menangani HIV & AIDS.

Jika ditelisik lebih dalam lagi fenomena gunung es di isu HIV & AIDS di Indonesia sudah ada sejak pertama kali hiv teridentifikasi masuk ke Indonesia tahun 1987, dimana hanya sedikit jumlah orang teridentifikasi terinfeksi HIV, sedangkan banyak anggota keluarga, teman, ataupun rekan sejawat yang mengetahui status HIV orang tersebut. Fenomena ini juga menunjukan bahwa selama ini banyak orang yang tidak sadar ataupun mengetahui status HIV-nya, tidak sedikit yang baru mengetahui status HIV-nya ketika sudah pada sampai tahap AIDS dan terjadi komplikasi penyakit oportunistik (penyakit yang masuk ketika imun/sistem kekebalan tubuh menurun akibat HIV) yang menyerang, dan menyebabkan individu tersebut dalam perawatan dan pengobatan yang lebih ketat dibanding dengan individu yang sudah mengetahui status HIV-nya terlebih dahulu.

Salah satu cara untuk mengurangi fenomena gunung es dalam isu HIV & AIDS adalah pentingnya tes HIV atau yang biasa disebut dengan tes VCT (Volunteery, Counseling, and Testing) sejak dini, karena hanya dengan tes tersebut bisa dikethaui status HIV seseorang, perlu diperhatikan lebih lanjut karena seseorang yang sudah terinfeksi oleh HIV tidak bisa dilihat dari perubahan fisik yang terjadi, jika ada anggapan seseorang yang mengalami penurunan berat badan secara drastis setelah terinfeksi HIV itu tidak terjadi kepada setiap individu dan tidak bisa dijadikan patokan secara umumnya, karena satu-satunya hal yang bisa membuktikan status HIV seseorang adalah dengan tes HIV atau VCT saja.

Yuk terhubung dengan yaids di sosial media kita :
Instagram
Twitter
Facebook
Youtube
E-mail: info@yaids.com
Hotline: (021) 549-5313
WhatsApp: +62 813-6099-1993 (Konseling dan Chat Only)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here