Beranda Artikel Berdamai Dengan ODHA

Berdamai Dengan ODHA

115
0
Sumber Foto: https://imgix.ranker.com/user_node_img/50074/1001479480/original/photo-photo-u1?w=650&q=50&fm=pjpg&fit=crop&crop=faces
Advertisement

Hidup Berdampingan dengan ODHA Sebuah Masalah atau Berdamai dengan Keadaan?

Pembahasan mengenai virus nampaknya sangat masif disampaikan saat ini. Semenjak adanya virus baru dengan jenis retrovirus baru bernama Corona, banyak orang-orang yang mulai mempelajari dan memahami apa itu virus. Pola hidup masyarakat sekarang menjadi beurbah saat ini, masyarakat mulai berhati-hati dalam melakukan aktivitasnya di luar rumah. Kondisi kehidupan sosial banyak mengalami perubahan semenjak pandemi Covid-19.

Advertisement

Saat ini seluruh elemen masyarakat banyak yang mengupayakan pencegahan penularan virus Corona. Namun nampaknya kita perlu melihat hal lain yang sampai saat ini, banyak orang-orang yang belum bisa berdamai atas hal ini. Hal tersebut yaitu mengenai penerimaan keberadaan seseorang dengan HIV & AIDS (selanjutnya disebut ODHA) di lingkungan sekitarnya.

Kondisinya sama dengan yang dihadapi saat ini oleh masyarakat, masyarakat belum bisa menerima mengenai orang yang positif terkena virus Corona. Sama halnya dengan beberapa komunitas masyarakat yang sampai saat ini masih belum bisa menerima keberadaan ODHA di lingkungan sosialnya. Kondisi pandemi saat ini pun memunculkan diskriminasi terhadap orang yang positif terkena virus Corona. Tidak hanya diskriminasi pada PDP (Pasien Dalam Pantauan) virus Corona dan juga individu yang sudah positif Corona, melainkan diskriminasi tersebut juga melekat pada ODHA.

Kasus-kasus mengenai diskriminasi kepada orang lain nampaknya selalu terjadi dalam kehidupan manusia. Diskriminasi sendiri merupakan sebuah perlakuan yang berbeda yang ditujukan kepada orang lain atau pada kelompok tertentu. Jika diskriminasi tersebut mustahil untuk dimusnahkan dimuka bumi ini, setidaknya masing-masing individu perlu memiliki kesadaraan dan mampu meminimalisir tindakan tersebut. Seperti halnya pengalaman yang pernah saya alami.

Pada awalnya sebelum saya belajar dan mempelajari mengenai HIV & AIDS, saya mungkin sama seperti kalian, yang tidak mau berteman dengan ODHA. Saya memiliki perasaan takut, cemas, khawatir, dan bahkan mendiskriminasi ODHA. Namun untuk saat ini saya menyadari bahwa sikap dan perilaku saya adalah bentuk ketidakadilan pada orang lain. Lalu bagaimana saya bisa menerima keberadaan ODHA? Saya rasa mungkin hal ini bisa diterapkan oleh teman-teman semua.

Pertama, hal yang paling penting adalah kita harus membuka diri. Membuka diri dalam hal ini dengan cara mulai mencoba mengetahui apa itu HIV & AIDS. Saya rasa di era digital seperti ini sudah banyak platfrom yang menyediakan informasi mengenai HIV & AIDS. Jadi saya rasa akan bisa melakukan riset akan hal itu. Jika kalian merasa tidak puas dengan hasil riset yang didapatkan, kalian bisa mengunjungi lembaga terkait yang berperan dalam kasus HIV & AIDS tersebut.

Melalui riset yang telah dilakukan, kalian bisa mengetahui mengenai bagaimana cara penularan HIV & AIDS. Kemudian mengetahui perilaku yang beresiko menularkan dan tidak menularkan. Dengan mengetahui hal tersebut, kalian akan percaya diri bahwa tidak ada sama sekali masalah hidup berdampingan dengan ODHA.

Melakukan riset mengenai HIV & AIDS juga tidak hanya berfungsi untuk mengetahui penularan dan perilaku beresiko, tapi lebih dari itu. Kalian akan mengetahui pembahasan mengenai edukasi seks, kemudian alat reproduksi, kesehatan reproduksi. Kalian juga bisa mendapatkan pengetahuan kesehatan seksual agar tidak melakukan seks bebas, dan tidak terkena infeksi menular seksual lainnya. Seperti yang saya ketahui bahwa tidak ada yang sia-sia dalam mencari sebuah ilmu pengetahuan.

Kedua, hal yang bisa dilakukan yaitu dengan bersyukur terhadap diri sendiri. Percayalah pada kekuatan bersyukur bahwa dengan bersyukur maka kalian akan mendapatkan kebahagian, dan mampu membahagiakan orang lain. Bersyukur dalam hal ini yaitu kalian perlu melihat bahwa kalian beruntung hidup tidak bergantung pada obat yang harus kalian minum selama sisa hidup kalian. Sedangkan ODHA hidup mereka bergantung pada obat-obatan tersebut.

Sebagai seorang ODHA mereka tidak bisa berhenti mengkonsumsi obat, obat ARV atau disebut dengan Antiretroviral. Tujuan utama pemberian ARV adalah untuk menekan jumlah virus (viral load), sehingga akan meningkatkan status imun pasien HIV dan mengurangi kematian akibat infeksi oportunistik. (Karyadi, 2017) Antiretroviral selain sebagai antivirus juga berguna untuk mencegah penularan HIV kepada pasangan seksual, maupun penularan HIV dari ibu ke anaknya. Hingga pada akhirnya diharapkan mengurangi jumlah kasus orang terinfeksi HIV baru di berbagai negara.

Sejak seseorang dinyatakan positif  HIV maka sejak saat itu, salah satu cara agar mereka mampu bertahan hidup adalah dengan mengkonsumsi ARV tersebut. Beruntung saat ini pemerintah sudah menyediakan ARV secara gratis yang bisa didapatkan di layanan kesehatan seperti puskesmas, maupun rumah sakit. Maka dari itu penting untuk bisa besyukur bahwa kalian dalam keadaan sehat tidak serta hidup kalian tidak bergatung pada obat. Dengan hal ini maka kalian akan timbul rasa empati dan mulai menghilangkan perilaku diskriminatif terhadap ODHA.

Ketiga, posisikanlah diri kalian bahwa kalian adalah berstatus sebagai ODHA. Saya pernah mencoba melakukan hal ini, saat menjalani pelatihan di Yayasan AIDS Indonesia. Lalu apa yang saya rasakan? Saya merasa sedih, terpuruk, tidak ada masa depan, merasa sendirian di dunia ini, rasanya benar-benar ingin menghilang dari semua orang. Kurang lebih hal itu yang juga dirasakan oleh ODHA. Jauh dari kata enak dan bebas bukan?

Bayangkan saja bahwa kalian positif terinfeksi HIV, apa hal yang akan kalian lakukan pertama kali? Apa kalian akan merenung, marah pada diri sendiri, menyalahkan orang lain, atau menginstrospeksi diri? Berat rasanya ketika mengetahui bahwa kita sebagai positif HIV. Ingin memberi tahu keluarga pun sangat malu bahkan takut setengah mati, karena ada stigma yang melakat buruk pada orang dengan positif HIV&AIDS. Namun kita patut memberikan apresiasi pada ODHA yang sampai saat ini mampu berdamai dengan diri sendiri dan juga keadaan.

Sesekali memang kita perlu memposisikan diri sebagai orang lain, dengan keadaan tertentu yang tidak kita inginkan. Agar kita mampu menerima diri sendiri dan menerima keberadaan orang lain khususnya ODHA. Jika kalian mampu memahami hal ini, maka kalian tidak akan berperilaku diskriminatif pada ODHA, atau bahkan pada hal yang lainnya.

Keempat, gembar-gembor masalah kemanusiaan atau humanisme sering terjadi bekalangan ini. Tapi apakah hal ini benar-benar dipahami dan berhasil direalisasikan? Humanisme sejatinya mengenai bagaimana seseorang manusia mampu memanusiakan manusia lainnya. Dengan artian melakukan segala sesuatu karena unsur kepentingan kemanusiaan. Dengan memberikan hak hidup yang sama, seperti tidak berperilaku diskriminatif, memberikan hak pekerjaan yang sama, hak pendidikan, ekonomi, berkarya dan hal lainnya sama seperti orang lain.

Dalam hal ini kita penting memiliki perilaku kemanusian, khususnya dalam mengatasi fenomena diskriminasi terhadap ODHA. Jika kita memiliki pemikiran bahwa ODHA merupakan manusia yang memiliki hak asasi manusia, maka tidak benar ketika kita mendiskriminasi ODHA. Mulailah untuk menerima keberadaan ODHA di sekitar kalian, berteman dan bersahabatlah dengan mereka, stop untuk memberikan stigma pada mereka, karena jika diminta untuk memilih mereka juga tidak ingin berada dalam kondisi tersebut.

Melalui keempat hal tersebut diharapkan kita mau dan mampu untuk sama-sama belajar untuk membuka diri dan menerima keberadaan ODHA. Hidup berdampingan dengan ODHA bukanlah sebuah masalah besar jika kita telah mengetahui apa itu HIV & AIDS. Dengan kita mengetahui HIV & AIDS maka hidup berdampingan dengan ODHA bukan sebuah masalah justru mampu dijadikan sebagai keberhasilan kita sebagai manusia yang mampu memanusiakan manusia. Tetaplah ingat bahwa jauhi penyakitnya bukan orangnya.

Yuk terhubung dengan yaids di sosial media kita :
Instagram
Twitter
Facebook
Youtube
E-mail: info@yaids.com
Hotline: (021) 549-5313
WhatsApp: +62 813-6099-1993 (Konseling dan Chat Only)

(Artikel ini ditulis oleh relawan Yayasan AIDS Indonesia bernama Vivi Maulia Rahma, angkatan 2018. Editor: Tim Komunikasi dan Kerjasama Yayasan AIDS Indonesia)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here