Beranda All News & Media Antiretroviral

Antiretroviral

71
0
Sumber foto: unaids.com
Advertisement

Yoo Sahabat YAIDS

Setelah teridentifikasi tahun 1981, jenis retrovirus yang sebelumnya dikarakteristikan dengan pengurangan CD4 sel T yang signifikan membingungkan para peneliti dan akademis medis, pada tahun 1983 akhirnya ditemukan kaitannya antara AIDS dan HIV.

Mengikuti perkembangan dari peralatan yang bisa mendiagnosis, penyebaran informasi yang merata terkait epidemilogi yang terjadi bisa berkembang secara cepat dapat dikumpulkan dan diteliti untuk dikembangan antiretroviral.

Advertisement

Atas usaha besar dan sumber daya dari seluruh dunia pada masa itu, hampir semua aspek biologis dan patogenis dari HIV dapat diklasifikasikan, dan membuka jalan untuk mengembangkan penelitian secara farmasi.

Sampai pada saat ini sudah ditemukan 23 agen antiretroviral dengan masing-masing mekanisme yang berbeda-beda untuk beraksi, yang bisa disesuaikan dan dikombinasikan sesuai dengan kebutuhan.

Perkembangan ARV

2 Tahun setelah pendeskripsi awal dari HIV di tahun 1981 dan setelah isolasi dari jenis HIV-1 di tahun 1983, usaha besar dimulai untuk menemukan cara untuk mengontrol virus. Tahun-tahun pertama masih dalam tahap diagnosa terhadap tes antibodi tengah dikembangan.

Di tahun 1987, penanganan dengan ARV dengan jenis Azidothymidine (AZT) ditemukan bahwa tingkat kelangsungan hidup ODHA pada tingkat akhir bisa lebih baik meski masih banyak sektor yang bisa dikembangkan.

Meski memiliki keterbatasan dan efek samping lainnya, AZT yang kemudian diberi nama Zidovudin (ZDV). Disetujui untuk diberikan kepada pasien dengan tahap dan tidak lama setelahnya ada tiga jenis ARV lagi yang disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat untuk diberikan kepada pasien HIV.

Jenis tersebut adalah zalcitabine (ddC), didanosine (ddl), dan stavudine (d4T). Masing-masing mempunyai keterbatasan dan efek sampingnya tersendiri dan pada masa ini sudah jarang ditemukan lagi ketiga jenis obat tersebut.

Di tahun 1996, dunia farmasi mulai memasuki era baru untuk pengembangan ARV, selama konferensi AIDS Vancouver berlangsung, dikemukakan kesuksesan dari hasil tiga kombinasi ARV. Hasil ini merupakan buah karya dari bukan hanya dari ketersediaan obat-obat baru dari kelas-kelas yang berbeda, tapi juga hasil dari mengetahui seluk beluk penginfeksian HIV lebih dalam lagi.

Tahun-tahun berikutnya setelah publikasi pertama International AIDS Society-USA merekomendasikan terapi antiretroviral (ART). perubahan drastis secara penurunan tingkat penyusupan seorang individu mendapat penyakit oportunistik dan menaikan grafik mortalitas menjadi efek positif dari terapi antiretroviral tersebut.

Kualitas hidup seorang pasien HIV yang menggunakan terapi tersebut meningkat namun di sisi lain terapi tersebut membutuhkan dosis harian dari pil-pil yang besar jumlahnya. Masih jauh dari kata mencukupi sampai beberapa tahun berikutnya.

Dekade 2000an

Tahun 2003 menjadi era selanjutnya dari pengembangan obat ARV, jika sebelumnya diperlukan 10-15 pil ARV setiap harinya, dosis ini bisa dikurangi sampai hanya perlu mengkonsumsi dua pil ARV setiap harinya.

Tidak lama setelahnya, World Health Organization (WHO) meluncurkan program-program baru untuk mempercepat pembukaan akses mendapat ARV ke daerah-daerah yang membutuhkan. Ini adalah regimen obat-obat yang sudah disimpelkan dengan dosis yang sudah disesuaikan. Mudah digunakan dan dapat diakses ke tenaga medis yang lebih luas lagi.

Menurut laporan dari The Joint United Nations Programme on HIV and AIDS (UNAIDS) sampai dengan akhir Juni 2019 sudah lebih dari dua puluh empat juta Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) dapat mengakses Antiretroviral Therapy (ART) di seluruh dunia.

Namun masih banyak halangan yang harus dihadapi, masih terbatasnya akses ke line kedua dan lini ketiga. Keterbatasan akses untuk mendiagnosa dan perawatan komplikasi jangka panjang, dan tenaga medis profesional yang dapat memberikan seorang pasien ke ART pertama kali adalah dokter-dokter senior dan spesialis di bidang penyakit menular.

Untuk mencapai hasil yang maksimal ke penanganan ke semua sektor, cara pencegahannya diperlukan pengetahuan terkait isu HIV kepada masyarakat luas di dunia. Terutama di negara-negara dengan sistem kesehatan yang masih berkembang dan negara-negara dengan pendapatan yang rendah. Dan yang paling penting perluya integrasi dari semua pihak dan penyamarataan penanganan disemua daerah.

Fungsi ARV

Secara sederhananya, ARV bertugas untuk memperlambat laju perkembang biakan atau reproduksi dari HIV. Sehingga setelah jumlah HIV bisa ditekan, CD4 bisa kembali membanjiri tubuh untuk menjalankan fungsinya kembali yaitu melindungi tubuh dari serangan mikroorganisme yang menyusup masuk ke dalam tubuh. Namun jika ditelisik lebih mendetail dan secara biologis, ada banyak fungsi ARV dan bisa dikategorikan dengan lima golongan:

  1. Golongan Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor (NRTI), dimana obat golongan ini menghambat perubahan bahan genetik HIV dari RNA menjadi DNA, beberapa obat di golongan ini antara lain 3TC (lamivudin), Abacavir (ABC), AZT (ZDV, zidovudin), dan d4T (stavudin).
  2. Golongan Non-nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor (NNRTI), dimana obat golongan ini mempunyai fungsi yang cukup serupa dengan golongan NRTI namun dengan cara yang berbeda, beberapa obat di golongan ini antara lain adalah Delavirdin (DLV), Efavirenz (EFV), dan Etravirin (ETV).
  3. Golongan Protease Inhibitor (PI), dimana obat golongan ini menghambat langkah ketika HIV memulai mereplikasi dirinya sendiri yang mengambil bahan dari CD4. Beberapa obat di golongan ini antara lain adalah Atazanavir (ATV), Darunavir (DRV), Fosamprenavir (FPV), dan Indinavir (IDV).
  4. Golongan Entry Inhibitor, sesuai dengan namanya obat golongan ini mencegah pengikatan dan saat masuknya HIV ke dalam sel. Beberapa obat di golongan ini antara lain adalah Enfuvirtid (T-20) dan Maraviroc (MVC).
  5. Golongan Integrase Inhibitor (INI), dimana obat golongan ini mecegah pemaduan kode genetik HIV dengan sel. Beberapa obat di golongan ini antara lain adalah Dolutegravir (DTG), Elvitegravir (EGV), dan Raltegravir (RGV).

Disiplin ARV

Prinsip pemberian ARV adalah harus menggunakan 3 jenis obat yang ketiga-tiganya harus terserap dan berada dalam dosis yang tepat dalam darah. Dahulu ini dikenal dengan Highly Active Antiretroviral Therapy (HAART).

Namun seiring berjalannya waktu Istilah HAART sering disingkat menjadi ART (antiretroviral therapy) atau terapi ARV. Berdasarkan pedoman dari Pemerintah Republik Indonesia yang dituangkan dalam Permenkes No. 87 tahun 2014 ada 5 aspek yang perlu diperhatikan sebelum memberikan ARV. Yaitu efektivitas, efek samping, interaksi obat, kepatuhan dalam mengkonsumsi obat, dan harga obat.

Konseling terapi yang memadai sangat penting karena obat ARV harus dikonsumsi seumur hidup dan keberhasilan terapi jangka panjang. Isi dari konseling terapi ini termasuk: kepatuhan minum obat, potensi/kemungkinan risiko efek samping atau efek yang tidak diharapkan. Dan terjadinya sindrom pulih imun (Immune Reconstitution Inflammatory Syndrome/IRIS) setelah memulai terapi ARV.

Orang dengan HIV dan AIDS harus mendapatkan informasi dan konseling yang benar dan cukup tentang terapi antiretroviral sebelum memulainya. Hal ini sangat penting dalam mempertahankan kepatuhan minum ARV karena harus diminum selama hidupnya. Faktor yang mempengaruhi kepatuhan minum ARV adalah penyediaan ARV secara cuma-cuma, kemudahan minum obat dan juga kesiapan untuk meminumnya.

Setelah dilakukan konseling untuk menanamkan kedisiplinan mengkonsumsi ARV, ODHA diminta berkomitmen untuk menjalani pengobatan ARV secara teratur untuk jangka panjang. Konseling meliputi cara dan ketepatan minum obat, efek samping yang mungkin terjadi. Interaksi dengan obat lain, monitoring keadaan klinis dan monitoring pemeriksaan laboratorium secara berkala termasuk pemeriksaan CD4.

Yuk terhubung dengan yaids di sosial media kita :
Instagram
Twitter
Facebook
Youtube
E-mail: info@yaids.com
Hotline: (021) 549-5313
WhatsApp

+62 813-6099-1993 (Konseling dan Chat Only)

+62 813-1775-9645 (Kerjasama dan Chat Only)

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here