Beranda All News & Media 3 Syarat Penularan dan 4 Media Cairan

3 Syarat Penularan dan 4 Media Cairan

97
0
Sumber Gambar: Instagram.com/yaids
Advertisement

Bagaimanakah cara penularan HIV & AIDS?

Apakah semua cairan tubuh seperti air liur, air seni, air mata ataupun cairan lainnya terdapat HIV? Pada kesempatan kali ini kita akan membahas syarat-syarat terjadinya penularan HIV dan media cairan tempat HIV berada, sebelumnya kita sudah mengetahui beberapa hal terkait HIV & AIDS seperti, Sejarah Singkat HIV & AIDS, Tidak Terdeteksi = Tidak Menularkan, Fenomena Gunung Es, dan Mengenal CD4. Ada tiga syarat utama terjadinya penularan HIV dari individu yang sudah positif HIV ke individu yang belum terinfeksi sama sekali.

  • Syarat penularan yang pertama adalah harus adanya virus HIV, pada dasarnya HIV bukanlah anomali dari dalam tubuh seseorang, HIV tidak begitu saja muncul di dalam tubuh seseorang dengan tiba-tiba atau gejala apapun, HIV hanya bisa ditularkan dari seorang yang sudah ada HIV di dalam tubuhnya dan ditularkan kembali ke individu yang belum positif HIV. Jika ada kontak darah antara seorang yang negatif HIV dengan orang lainnya yang juga negatif, maka tidak perlu dikhawatirkan akan terinfeksi HIV, yang perlu dikhawatirkan adalah Infeksi Menular Seksual (IMS) lainnya seperti Human Papiloma Virus (HPV), Gonorrhea, Sipilis, ataupun Raja Singa. Maka dari itu perlu diperhatikan kebersihan alat genital masing-masing individu dan usahakan tidak menganti-ganti pasangan.
  • Syarat penularan yang kedua adalah adanya 4 media cairan, yaitu cairan darah, cairan sperma, cairan vagina, dan air susu ibu. Selain 4 media cairan tersebut, HIV tidak menularkan dengan cairan lainnya seperti keringat, air seni dan lain-lainnya yang keluar dari seorang individu yang positif HIV dan masuk ke dalam tubuh seorang individu yang negatif HIV. Penjelasan lengkap terkait 4 media cairan dapat ditemukan di paragraf bawah
  • Syarat penularan yang ketiga adalah adanya luka yang terbuka di setiap individu, baik luka di individu dengan HIV positif dan luka di individu HIV negatif. Luka yang dimaksud di sini bukan hanya luka terbuka yang bisa dilihat dengan mata telanjang, tapi luka terbuka yang juga tidak terlihat dengan mata namun samar-samar dapat dirasa jika disentuh, atau biasa disebut dengan luka mikrolesi. Contoh dari luka mikrolesi adalah luka ketika sehabis shaving (mencukur), kadang kita tidak bisa merasakan luka tersebut, namun jika daerah yang mengalami luka dibilas dengan air akan terasa perih. Perlu diperhatikan kembali jika syarat ini berlaku untuk kedua belah pihak baik yang sudah terinfeksi HIV maupun yang belum terinfeksi. Jika seorang yang negatif HIV dan tidak mempunyai luka namun mendapat kontak darah secara langsung dari seorang yang positif HIV dan mempunyai luka, maka HIV tidak akan di transmisi ke individu negatif HIV tersebut, begitu pula jika kasus sebaliknya.

Dari penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa sebenernya penularan HIV itu tidak semudah seperti penularan jenis retrovirus lain seperti Corona yang bisa beresiko bisa ditularkan hanya dengan melakukan kontak dengan seseorang yang sudah tertular. 3 syarat tersebut harus saling berkaitan untuk menularkan HIV, jika tidak ada satu dari 3 syarat tersebut maka seseorang bisa dikatakan tidak tertular HIV, namun untuk lebih jelasnya jika seseorang melakukan perilaku beresiko yang berhubungan dengan 3 syarat di atas maka perlu melakukan tes VCT ataupun Viral Load untuk mengetahui status HIVnya secara pasti.

Advertisement

4 media cairan

Selain tiga syarat penularan, diperlukan juga media cairan yang terdapat HIV di dalamnya, dan perlu diperhatikan juga bahwa meskipun HIV bisa hidup di setiap cairan tubuh manusia, namun HIV hanya bisa menularkan melalui 4 cairan. Cairan tersebut adalah cairan darah, cairan sperma, cairan vagina, dan air susu ibu. Selain empat media cairan tersebut, meski HIV dapat hidup, namun tidak bisa menularkan ke individu lain. Presentasenya, jika satu tetes darah bisa menularkan HIV kepada individu yang belum terinfeksi namun satu tetes air liur tidak bisa menularkan HIV, dibutuhkan kurang lebih seperempat volume galon air liur dan harus masuk melalui luka dalam satu waktu (di mana adalah suatu hal yang mustahil) untuk menularkan HIV. Cairan tubuh lainnya yang tidak dapat menularkan HIV adalah cairan keringat, air seni, air lendir yang keluar dari hidung (ingus). Jadi hanya ada 4 media cairan di mana HIV bisa hidup, cairan-cairan tersebut adalah:

  1. Cairan Darah adalah cairan yang diproduksi oleh tubuh yang mempunyai fungsi untuk mengantar oksigen ke seluruh tubuh (darah merah) dan juga mempertahankan imun tubuh (darah putih), HIV bisa hidup di dalam cairan darah karena di bagian Limfosit di dalam sel darah putih, tepatnya di bagian CD4 merupakan makanan HIV untuk mereplikasi diri. Penjelasan lebih lanjut bisa ditemukan di sini
  2. Cairan Sperma adalah cairan yang diproduksi oleh tubuh yang mempunyai fungsi untuk menghantarkan sel sperma pada saat ejakulasi menuju sel ovum (sel telur) pada wanita. Banyak yang salah paham dengan cairan sperma dan sperma, HIV hanya bisa hidup di cairan sperma dan TIDAK bisa bertahan hidup di sel sperma, jika ditelisik dari bentuk cairannya, sperma dan cairan sperma pun berbeda bentuk, cairan sperma merupakan cairan yang bening seperti air putih dan mempunyai karakteristik yang hampir mirip dengan sperma, sedangkan sperma sendiri berwarna putih seperti susu. Pada umumnya, cairan sperma biasa disebut dengan “precum” yang merupakan sebagai cairan pelumas pada saat penis akan melakukan penetrasi.
  3. Cairan Vagina adalah cairan yang diproduksi oleh tubuh yang mempunyai fungsi sama seperti cairan sperma, yaitu untuk melumasi dinding vagina pada saat penis akan melakukan penetrasi kedalamnya, jika tidak dilumasi oleh cairan vagina ataupun cairan sperma, dikhawatirkan pada saat penis melakukan penetrasi akan terjadi gesekan antara kulit penis dan dinding vagina secara terus menerus dan bisa mengakibatkan luka baik di kulit sperma atau vagina ataupun di kedua bagian tersebut, jika sudah ada luka maka akan ada jalan keluar dan jalan masuk yang bisa mengakibatkan pertukaran cairan antara dua individu tersebut dan beresiko menularkan HIV ataupun Infeksi Menular Seksual (IMS) lainnya.
  4. Air Susu Ibu adalah sumber protein utama yang dibutuhkan bayi pada masa tumbuh kembang tahap awal, dimana asi berperan penting untuk pertumbuhan bayi yang belum bisa mengkonsumsi berbagai bentuk asupan. Jika seorang ibu menyusui yang positif HIV hendak akan menyusui bayinya, disarankan untuk mengganti ASI dengan susu formula, namun jika susu formula belum memenuhi syarat AFASS (Acceptable, Feasible, Affordable, Sustainable, Safe) sesuai dengan konsultasi ataupun arahan dokter yang mendampingi di mana ini menjadi Pedoman Nasional Pencegahan Penularan HIV & AIDS dari ibu ke bayi (DEPKES RI 2006).

Jadi kesimpulannya adalah

Pada dasarnya, HIV sebenarnya sangat sulit ditularkan karena adanya 3 syarat dan 4 media yang harus saling berkesinambungan untuk menularkan kepada individu yang belum ternfeksi. HIV bukan jenis retrovirus yang bisa bertahan hidup lama di udara terbuka, jika ada setetes darah yang mengandung HIV di tempat terbuka, maka selama darah itu mengental, HIV masih bisa hidup, jika seiring berjalannya waktu darah tersebut menjadi mengeras maka bisa dipastikan HIV juga sudah mati. HIV juga bukan jenis retrovirus yang bersifat airborne atau bisa menyebar melalui udara jadi seorang yang HIV positif yang batuk atau bersin tidak bisa menularkan HIV kepada lingkungan sekitarnya. Seperti yang selalu para fasilitator Yayasan AIDS Indonesia sampaikan ketika akan menutup setiap sesi KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi):

“Jauhi virusnya, bukan orangnya”

Yuk terhubung dengan yaids di sosial media kita :
Instagram
Twitter
Facebook
Youtube
E-mail: info@yaids.com
Hotline: (021) 549-5313
WhatsApp: +62 813-6099-1993 (Konseling dan Chat Only)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here