Kamu Punya Cerita KPC) SMAK BPK Penabur 1

Gallery

Jakarta, 22 Oktober 2016

 

Hari AIDS Sedunia memang kurang dari 2 bulan lagi, namun dari awal tahun kampanye HIV & AIDS sangat gencar dilakukan oleh Yayasan AIDS Indonesia. Telah banyak kegiatan sosialisasi yang dilakukan, baik kegiatan harian, mingguan dan bulanan demi mengedukasi masyarakat luas.

 

Dalam penyebaran informasi dan edukasi ini, Yayasan AIDS Indonesia tidak mengenal kata lelah, berharap Indonesia dapat terbebas dari masalah AIDS, maka kegiatan sosialisasi ini menyasar ke semua element masyarakat, baik ke sekolah-sekolah, kampus, komunitas, organisasi masyarakat, kelurahan, puskesmas, dll. Ini adalah bukti bahwa Hari AIDS bukan sekedar seremonial saja dan diperingati dalam setahun sekali, tetapi setiap harinya.

 

Dari banyak kegiatan yang dilaksanakan, divisi campaign membuat sebuah kegiatan dengan nama “Kamu Punya Cerita”. Mengapa dinamakan “Kamu Punya Cerita”, karena setiap orang mempunyai cerita-cerita yang perlu didengar dan dihargai. Dan dengan cerita, kita menjadi tahu informasi-informasi penting dan dapat memecahkan suatu masalah.

 

Sasaran dari kegiatan ini adalah siswa-siswi dibangku Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan. Berharap siswa-siswi berani membagikan ceritanya, maka dalam kegiatan ini Yayasan AIDS Indonesia juga mengadakan berbagai lomba, antara lain : lomba menulis, lomba vlogging (video blogging) dan lomba mocap (momen capture/foto), jadi siswa-siswi mempunyai wadah bercerita dengan kreatifitas yang mereka miliki.

Kegiatan ini sendiri dilaksanakan selama 5 kali, mulai dari Agustus sampai Desember di 5 sekolah di Jabodetabek.

 

Di bulan ini, kegiatan Kamu Punya Cerita jatuh pada tanggal 19 Oktober 2016, pkl 15:00 – 16:35, bertempat di Aula SMAK 1 Penabur, Jakarta.

Karena Oktober adalah bulannya hari Sumpah Pemuda, dan mengingat masih maraknya sitgma negatif & diskriminasi ditengah-tengah masyarakat, maka kami merasa tepat jika mengangkat tema “Semangat Pemuda Tanpa Stigma dan Diskriminasi”. Jadi, 970 siswa-siswi yang hadir pun diajak memaknai sumpah pemuda disegala aspek dikehidupan mereka.

 

Jadi, apa sajakah keseruan dikegiatan ini?

Yuk, mari diintip!

 

Dibuka dengan alunan musik kulintang dan lagu Satu Nusa Satu Bangsa dari kegiatan ektrakurikuler sekolah ini, seluruh siswa yang terdiam dalam kegelapan ruangan ini pun bersatu menyiapkan diri untuk mengikuti kegiatan.


Komunitas Pecinta Harmonika (atau yang biasa disebut Jakarta Harpist) pun tidak mau ketinggalan, mereka mengajak siswa-siswi bernostalgia dengan “Kisah Kasih di Sekolah” dengan dentingan gitar dan keharmonisan suara harmonika mereka, lalu dilanjutkan dengan lagu “Tanah Air Beta”.

 

Tentunya tidak hanya acara seru-seruan saja, seru dan edukatif lebih tepatnya, sesi pun berlanjut ke sosialisasi HIV & AIDS.

Tetapi sebelum itu, ada pemutaran video testimoni dari dua orang ODHA dengan kisah hidup mereka terkait stigma dan perlakuan orang-orang disekitar mereka. Ini menjadi latar belakang pembahasan kali kali ini. 

 

Di sesi sosialisasi, relawan Yayasan AIDS Indonesia, kakak Verrel (yang katanya ganteng) bersama kakak Tasya, menjadi fasilitator (pembicara) membawakan materi HIV & AIDS dengan mengajak siswa-siswi ikut aktif mengungkapkan pendapat dan pengetahuan mereka seputar HIV & AIDS. Mereka pun berhasil menggali pengetahuan siswa-siswi dan memberikan pengetahuan yang belum siswa-siswi  ketahui.


Berlanjut ke sesi yang menarik, Candice seorang siswi kelas XII, memberanikan diri membagikan ceritanya dengan bermonolog. Tampil percaya diri, dia mengisahkan cerita temannya yang adalah seorang ODHA, dimana dia ditinggal oleh teman-teman dan tunangannya, hanya karena statusnya kini sebagai Orang dengan HIV & AIDS (ODHA). Dicerita itu Candice mengungkapkan bahwa seseorang yang memiliki segalanya, baik teman, keluarga, kekayaan dan ketenaran tidak menjamin dia akan mendapatkan kesetiaan dan kedamaian manakala HIV & AIDS telah ikut campur menyertai kehidupannya.

 

Jadi, apa sih penyebab masih banyaknya orang menganggap bahwa seorang ODHA patut dijauhi, dan pantaskah perlakuan itu?

 

Disesi diskusi dan tanya jawab (talkshow), Robiyana (Mba Roby) selaku staff di Yayasan AIDS Indonesia menjelaskan bahwa pengetahuan masyarakat seputar HIV & AIDS masih sangat kurang, sedangkan pemberitaan yang beredar diberbagai sosial media banyak sekali informasi-informasi yang salah terkait HIV & AIDS, entah itu cara penularan maupun pengobatan.

Hal ini tentu saja berpengaruh kepada sikap masyarakat kepada pengidap virus ini. Disini Robiyana menjelaskan bahwa, sampai saat ini belum ada pengobatan alternatif yang menyembuhkan bagi pengidap HIV selain menjalani terapi ARV (Antiretroviral) dan menjaga perilaku pola hidup sehat, istirahat dan beraktifitas yang cukup.

Adi Tasya, pemenang None Buku Persahabatan Jakarta Barat dan juga relawan Yayasan AIDS Indonesia, mengungkapkan antusiasmenya dalam penyebaran informasi HIV & AIDS bersama Yayasan AIDS Indonesia. Tasya mengatakan bahwa, dia senang sekali bergabung dengan Yayasan AIDS Indonesia. “Karena selain bisa memberi manfaat bagi orang banyak, disini kekeluargaanya dapat, dan aku juga bisa bertemu orang-orang baru dan itu menyenangkan sekali” ujar Tasya. 

 

Disisi lain, penyanyi Indah Dewi Pertiwi selaku relawan spesial di Yayasan AIDS Indonesia, mengungkapkan alasannya bergabung dan membagikan kisahnya selama dua tahun bersama Yayasan AIDS Indonesia. Indah mengatakan bahwa, angka kasus tertinggi salah satunya ada di Jakarta, dan dia selaku penduduk Jakarta merasa tergerak hatinya, sehingga setiap kali ada jadwal kosong, Indah selalu ikut serta setiap kali diajak oleh Yayasan AIDS Indonesia.  Indah juga memotivasi siswa-siswi agar terus semangat belajar, mengindari perilaku beresiko dan memuji pihak sekolah yang mempunyai banyak kegiatan-kegiatan yang positif bagi siswa-siswinya.


Dalam sesi diskusi & tanya jawab ini banyak siswa yang aktif bertanya, berikut beberapa pertanyaan yang diajukan oleh siswa:

Alvin; “HIV itu menyerang sel darah putih yang bernama CD4, apakah ada cara untuk menambah jumlah CD4 itu?”

 

Billy; “Kalau orang terserang penyakit leukimia, apa bisa terkena HIV juga?”

 

Michelle; “Kan obat HIV itu ARV ya, terus kandungan ARV itu fungsinya buat apa?’’

 

Keran: “Kalau sudah terkena HIV AIDS itu, apakah bisa sembuh total atau ngga?”

 

Fany; “Terapy ARV itu ada apa saja?”

 

Semua pertanyaan-pertanyaan diatas membuat narasumber menjadi semangat untuk memberikan penjelasan. Maka dengan itu berakhirlah acara Kamu Punya Cerita ke-tiga kali ini yang dipandu oleh kedua moderator (host) Arif Chun (relawan) & Yovinca (siwi kelas XI) dengan penuh edukatif dan hiburan, lalu ditutup dengan penampilan asyik dari Indah Dewi Pertiwi yang berhasil mengHIPNOTIS siswa-siswi untuk ikut bergoyang bersama-sama.


Akhirnya, sebagaimana tujuan acara ini, diharapkan,  dengan semangat sumpah pemuda, siswa-siswi dapat menjadi pelopor penghapusan stigma negatif dan diskriminasi ditengah-tengah masyarakat khususnya terhadap ODHA (Orang Dengan HIV&AIDS) & OHIDA (Orang yang Hidup Dengan HIV&AIDS) , lewat cerita, dan kreatifitas yang mereka miliki dengan dibekali pengetahuan seputar HIV & AIDS. Sehingga kampanye HIV & AIDS semakin luas dan jumlah kasus HIV & AIDS di Indonesia dapat ditekan.


Dengan semangat yang sama pula, para relawan Yayasan AIDS Indonesa tidak mengenal kata lelah dan mempunyai cerita sebagai pelopor, penyebar virus-virus semangat dan pengetahuan kepada masyarakat Indonesia. Jauhi virusnya, Bukan orangnya!

 

Salam Peduli AIDS!

 

Relawan YAIDS - Jelita Purba




-
-
-
-
Share this Post: Facebook Twitter

Related Posts