| |
|
HANCURKAN STIGMA & DISKRIMINASI
Oleh : Lutfi nurhidayat©
Pernah satu ketika ada seseorang yang bertanya kepada saya, apa perbedaan sakit panu dengan sakit jantung? Secara orang awam yang menjawabnya mudah saja, penyakit panu adalah salah satu jenis penyakit kulit dan sakit jantung adalah salah satu penyakit dalam. Mungkin dengan kita menjawab seperti itu selesai sudah jawabannya. Akan tetapi bagaimana jika logika pertanyaan dihubungan dengan keadaan epidemi HIV&AIDS yang ada sekarang. Orang akan lebih malu jika ia mempunyai panu ketimbang sakit jantung karena stereotip yang ada dimasyarakat bahwa sakit panu adalah penyakitnya orang miskin yang hidupnya kotor jauh dari kata bersih apalagi yang ditanya adalah seorang kaya, tapi jika orang tidak akan ragu menjawab jika ditanyakan apa penyakitnya lalu ia menjawab sakit jantung.
Kita seringkali menyandingkan kata HIV&AIDS dengan sex bebas, narkoba, atau hal-hal yang negatif lainnya, tidak peduli orang tersebut seorang pelajar, mahasiswa, politikus, orang kaya, orang miskin atau orang-orang yang berkubang di dalam dunia hitam. Padahal pada kenyataan HIV&AIDS bisa menularkan siapa saja bahkan bayi yang masih sucipun bisa tertular karenanya. Pada saat HIV masuk kedalam tubuh manusia apakah ia akan melihat orang tersebut adalah orang kaya, selebritis, politikus, saya rasa tidak ia akan masuk ke dalam tubuh siapa saja. Tidak bisa dipungkiri bahwa beberapa cara penularan virus HIV adalah melalui cara-cara yang telah disebutkan di atas akan tetapi dengan melihat fenomena yang ada sekarang dapatkah kita mengatakan bahwa HIV&AIDS itu adalah penyakit orang-orang jelek saja.
Seringkali proses penanggulangan HIV&AIDS di dunia khususnya di Indonesia terhambat dengan banyaknya stigma yang mengarah pada tindakan diskriminasi di masyarakat yang mengakibatkan proses penyebaran informasi tentang HIV&AIDS khususnya pada kalangan resiko rendah terhambat, karena mereka beranggapan bersih dan bukan orang yang “jelek”. Banyak kasus-kasus HIV yang tidak terungkap yang mengakibatkan fenomena gunung es semakin besar. Selain itu juga kampanye penggunaan kondom masih dianggap hal yang negatif karena sama saja mengkhalalkan sex bebas dan prostitusi.
Melihat fenomena ini nampaknya faktor budaya timur memegang peranan yang sangat penting dalam membentuk pola pikir orang Indonesia yang sudah kebarat-baratan. kita masih menganggap tabu hal-hal yang berbau negatif untuk dibicarakan di depan umum akan tetapi pada kenyataannya sering kali bertolak belakang dengan prilaku kita sendiri. Mungkin kita harus berkaca dari fenomena yang ada, sehingga kita bisa menghilangkan stigma dan dikriminasi di dalam masyrakat dalam rangka penanggulangan HIV&AIDS di Indonesia (LN)
|
|
|
|
|
|
| |
YAYASAN
AIDS INDONESIA
Hotel Menara Peninsula Level 3, Jl. Let. Jend. S. Parman, Kav. 78 Slipi,
Jakarta 11410 Indonesia
Phone ( 62-21) 5495313, 5303951-52 Fax. (62-21) 5359759 E-mail: info@yaids.com |
|